Donderdag 02 Mei 2013


BILINGUALISME DAN DIGLOSIA

Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur lain, entah karena letaknya yang jauh terpencil atau karena sengaja tidak mau berhubungan dengan masyarakat lain, maka masyarakat tutur itu akan tetap menjadi masyarakat tutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat yang monolingual. Sebaliknya, masyarakat yang terbuka, artinya, yang mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu akan mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-perisiwa kebahasaan sebagai akibatnya. Peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu adalah apa yang di dalam sosiolinguistik disebut bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa. Yang akan dibahas dalam bab ini adalah bilingualisme dan glosia, serta hubungan atau kaitan antara keduanya.
1.1 Bilingualisme
Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilahnya secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishman 1975:73). Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan kedua bahasa itu disebut bilingualitas. Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga istilah multilingualisme yakni keadaan digunakannya lebih dari dua bahasa oleh seseorang dalam pergaulannyadengan orang lain secara bergantian.
Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian telah menimbulkan sejumlah masalah yang biasa dibahas kalau orang membicarakan bilingulisme. Masalah-masalah itu adalah (dilihat juga Dittmar 1976:170):
1.      Sejauhmana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai dengan baik) sehingga dia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual?
2.      Apa yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme ini? Apakah bahasa dalam pengertian langue, atau sebuah kode, sehingga bisa termasuk sebuah dialek atau sosiolek.
3.      Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? kapan dia harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula harus menggunakan B2-nya? Kapan pula dia dapat secara bebas untuk dapat menggunakan B1-nya atau B2-nya?
4.      Sejauhmana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya, atau sebaliknya, B2-nya dapat mempengaruhi B1-nya?
5.      Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorangan (seperti disebut dalam konsep umum) atau juga berlaku pada satu kelompok masyarakat tutur?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, Bloomfield dalam bukunya yang terkenal Language (1933:56) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya”. Jadi, menurut Bloomfield ini disebut dengan bilingual apabila dapat menggunakan B1 dan B2 dengan derajat yang sama baiknya. Konsep Bloomfield mengenai bilingualisme ini banyak pertanyaan dan dipersoalkan orang, sebab, pertama, bagaimana mengukur kemampuan yang sama dari seorang penutur terhadap dua buah bahasa yang digunakannya; kedua, mungkinkah ada seorang penutur yang dapat menggunakan B2-nya sama baik dengan B1-nya.
Berkenaan dengan konsep bilingualisme dalam kaitannya menggunakan B2, Diebold (1968:10) menyebutkan adanya bilingualisme pada tingkat awal, yaitu bilingualisme yang dialami oleh orang-orang, terutama anak-anak yang sedang mempelajari bahasa kedua pada tahap permulaan. Seorang bilingual yang dapat menggunakan B2 sama baiknya dengan B1, oleh Halliday (dalam Fishman 1968:141) disebut ambilingual. Oleh Oksaar (dalam Sebeok 1972:481) disebut ekuilingual; dan oleh Diebold (dalam Hymes 1964:496) diseburt koordinat bilingual.
Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, dapat kita telusuri dari pendapat para pakar berikut. Pendapat Bloomfield mengenai bilingualisme, yaitu kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua buah bahasa secara sama baiknya. Di tempat lain, Bloomfield (1933) juga mengatakan bahwa menguasai dua buah bahasa, berarti menguasai dua buah sistem kode. Kalau yang dimaksud oleh Bloomfield bahwa bahasa itu adalah kode, maka bahasa itu bukan langue, melainkan parole, yang berupa berbagai dialek dan ragam. Seorang pakar lain, Mackey (1962:12), mengatakan dengan tegas bahwa bilingualisme adalah praktik penggunaan bahasa secara bergantian, dari bahasa yang satu kepada bahasa yang lain, oleh seorang penutur. Untuk menggunakan dua buah bahasa diperlukan penguasaan kedua bahasa itu dengan tingkat yang sama. Jadi, jelas menurut Mackey bahasa adalah sama dengan langue. Tapi, Weinrich (1968:1) memberi pengertian bahwa dalam arti luas, yakni tanpa membedakan tingkat-tingkat yang ada di dalamnya. Bagi Weinrich menguasai dua  bahasa dapat berarti dapat menguasai dua sistem kode, dua dialek atau ragam dari bahasa yang sama.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Haugen (1968:10) yang memasukkan pengasaan dua dialek dari satu bahasa yang sama ke dalam bilingualisme. Demikian juga pendapat Rene Appel (1976:176) yang mengatakan bahwa apa yang disebut dua bahasa dalam bilingualisme adalah termasuk juga dua variasi bahasa.
Pertanyaan ketiga, mengenai kapan seorang penutur bilingual menggunakan satu bahasa tertentu, B1-nya atau B2-nya, atau satu ragam bahasa tertentu adalah menyangkut masalah fungsi bahasa atau fungsi ragam bahasa tertentu di dalam masyarakat tuturnya sehubungan dengan adanya ranah-ranah penggunaan bahasa atau ragam bahasa tersebut.
Pertanyaan keempat, menyangkut masalah kefasihan menggunakan kedua bahasa itu, dan kesempatan untuk menggunakannya. Sebelum ini, kita berasumsi bahwa penguasaan terhadap B1 oleh seorang bilingual adalah lebih baik dari pada penguasaannya terhadap B2, sebab B1 adalah bahasa ibu, yang dipelajari dan digunakan sejak kecil dalam keluarga; sedangkan B2 adalah bahasa yang baru kemudian dipelajari yakni setelah menguasai B1.
Pertanyaan kelima, menyangkut hakikat bahasa dalam kaitannya dengan penggunaannya di dalam masyarakat tutur bilingual. Mackey (1968:554-555) berpendapat bahwa bilingualisme bukan gejala bahasa, melainkan sifat penggunaan bahasa yang dilakukan penutur bilingual secara berganti-ganti. Bilingualisme juga bukan ciri kode, melainkan ciri ekspresi atau pengungkapan seorang penutur. Begitupun bukan bagian dari langue, melainkan bagian dari parole. Mackey juga mengatakan kalau bahasa itu milik kelompok atau milik bersama suatu masyarakat tutur, maka bilingualisme adalah milik individu-individu para penutur, sebab penggunaan bahasa secara bergantian oleh seorang penutur bilingual mengharuskan adanya dua masyarakat tutur yang berbeda, misalnya masyarakat tutur B1 dan masyarakat tutur B2.
Berbeda dengan Mackey, Oksaar (1972:478) berpendapat bahwa bilingualisme bukan hanya milik individu, tetapi juga milik kelompok. Mengapa? Sebab bahasa itu penggunaannya tidak terbatas antara individu dan individu saja, melainkan juga digunakan sebagai alat komunikasi antar kelompok.
1.2 Diglosia
Kata diglosia berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang pernah digunakan oleh Marcais, seorang linguis Prancis: tetapi istilah itu menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah digunakan oleh seorang sarjana dari Stanford University, yaitu C.A. Ferguson tahun 1958 dalam suatu simposium tentang “Urbanisasi dan bahasa-bahasa standar” yang diselenggarakan oleh American Anthropological Association di Washington DC. Kemudian Ferguson menjadikan lebih terkenal lagi istilah tersebut dengan sebuah artikelnya yang berjudul “Diglosia” yang dimuat dalam majalah Word tahun 1959. Artikel ini kemudian dimuat juga dalam Hymes (ed.) Language in Culture and Society (1964:429-439): dan dalam Giglioli (ed.) Language and Social Contact (1972). Hingga kini artikel Ferguson itu dipandang sebagai referensi klasik mengenai diglosia, meskipun Fishman (1967) dan Fasold (1984) ada membicarakannya juga.
Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu.
(1)   Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain terdapat sejumlah dialek-dialek utama (lebih tepat: ragam-ragam utama) dari satu bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain.
(2)   Dialek-dialek itu, diantaranya, bisa berupa dialek standar, atau sebuah standar fregional.
(3)   Ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki ciri:
-          Sudah (sangat) terkodifikasi
-          Gramatikalnya lebih kompleks
-          Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati
-          Dipelajari melalui pendidikan formal
-          Digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal
-          Tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan sehari-hari.
Ferguson membicarakan diglosia itu dengan mengambil contoh empat buah masyarakat tutur dengan bahasa mereka. Keempat masyarakat tutur itu adalah masyarakat tutur bahasa Arab, Yunani modern, Jerman Swiss, dan Kreol Haiti. Diglosia ini dijelaskan oleh Ferguson dengan mengetengahkan sembilan topik, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standardisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, dan fonologi.
Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurut Ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa: variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T atau ragam T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R atau ragam R). Dalam bahasa Arab dialek T-nya adalah bahasa Arab klasik, bahasa Al-Quran yang lazim disebut al-fusha, dialek R-nya adalah berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakan oleh bangsa Arab, yang lazim disebut addarij. Dalam bahasa Yunani dialek T-nya disebut katharevusa, yaitu bahasa Yunani murni dengan ciri-ciri linguistik Yunani klasik: sedangkan dialek R-nya disebut dhimotiki, yakni bahasa Yunani lisan. Dalam bahasa Jerman-Swis dialek T-nya adalah Jerman standar, dan dialek R-nya adalah berbagai dialek bahasa Jerman. Di Haiti, yang menjadi dialek T-nya adalah bahasa Prancis, sedangkan dialek R-nya adalah bahasa Kreol-Haiti, yang dibuat berdasarkan bahasa Prancis.
Prestise. Dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menganggap dialek T lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan merupakan bahasa yang logis. Sedangkan dialek R dianggap inferior; malah ada yang menolak keberadaannya. Warisan kesusastraan. Pada tiga dari empat bahasa yang digunakan Ferguson sebagai contoh terdapat kesusastraan di mana ragam T yang digunakan dan dihormati oleh masyarakat bahasa tersebut. Kalau ada juga karya sastra kontemporer dengan menggunakan ragam T, maka dirasakan sebagai kelanjutan dari tradisi itu, yakni bahwa karya sastra harus dalamragam T. Tradisi kesusastraan yang selalu dalam ragam T ini menyebabkan kesusastraan itu menjadi asing dari masyarakat umum.
 Pemerolehan. Ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali. Begitu juga mereka yang keluar dari pendidikan formal kelas-kelas awal. Mereka yang mempelajari ragam T hampir tidak pernah menguasainya dengan lancar, selancar penguasaannya terhadap ragam R. Alasannya, ragam T tidak selalu digunakan, dan dalam mempelajarinya selalu terkendali dengan berbagai kaidah dan aturan tata bahasa; sedangkan ragam R digunakan secara reguler dan terus-menerus di dalam pergaulan sehari-hari.
   Standardisasi. Karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan kalau standardisasi dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui kondifikassi formal. Kamus, tata bahasa; petunjuk lafal, dan buku-buku kaidah untuk penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Sebaliknya, ragam R tidak pernah diurus dan diperhatikan. Stabilitas, kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama di mana ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu. Pertentangan atau perbedaan antara ragam T dan ragan R dalam masyarakat diglosis selalu ditonjolkan karena adanya perkembangan dalam bentuk-bentuk campuran yang memiliki ciri-ciri ragam T dan ragam R. Gramatika, Ferguson berpandangan bahwa ragam T dan ragam R dalam diglosis merupakan bentuk-bentuk dari diglosis yang sama; namun, di dalam gramatika ternyata terdapat perbedaan. Umpamanya, dalam bahasa Jerman standar kita dapati empat kasus nomina dan dua tenses indikatif sederhana; sedangkan dalam bahasa Jerman Swiss hanya terdapat tiga kasus nomina, dan satu tenses sederhana.
Leksikon. Sebagian besar kosakata pada ragam T dan ragam R adalah sama. Namun, ada kosakata pada ragam T yang tidak ada pasangannya pada ragam R, atau sebaliknya, ada kosakata pada ragam R yang tidak ada pasangannya pada ragam T. Fonologi. Dalam bidang fonologi ada perbedaan struktur antara ragam T dan ragam R. Perbedaan tersebut bisa dekat bisa jauh juga. Ferguson menyatakan sistem bunyi ragam T dan ragam R sebenarnya merupakan sistem tunggal; namun, fonologi T merupakan sistem dasar, sedangkan fonologi R, yang beragam-ragam merupakan subsistem atau parasistem.
Pakar sosiologi yang lain, yakni Fasold (1984) mengembangkan konsep diglosia ini menjadi apa yang disebutkan broad diglosia (diglosia luas). Di dalam konsep ini perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam atau dua dialek secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu. Dengan demikian termasuk juga keadaan masyarakat yang di dalamnya ada diperbedakan tingkatan fungsi kebahasaan, sehingga muncullah apa yang disebut Fasold diglosia ganda dalam bentuk yang disebut double overlapping diglosia, double-nested diglosia, dan linear polyglosia. Yang dimaksud dengan double overlapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan derajat dan fungsi bahasa secara berganda.sebagai contoh adalah situasi kebahasaan di Tanzania, seperti yang dilaporkan Abdulaziz Mkilifi dan dikutip oleh Fasold (1984). Double-nested diglosia, adalah keadaan dalam masyarakat multilingual, di mana terdapat dua bahasa yang diperbedakan: satu sebagai bahasa T, dan yang lain sebagai bahasa R. Tetapi baik bahasa T maupun bahasa R itu masing-masing mempunyai ragam atau dialek yang masing-masing juga diberi status sebagai ragam T dan ragam R. Sebagai contoh kita ambil keadaan kebahasaan di Khalapur, sebuah desa di utara Delhi, India, sebagaimana dideskripsikan oleh Gumperz (1964).
Untuk menjelaskan yang dimaksud dengan linear polyglosia Fasold (1948) mengemukakan hasil penelitian Platt (1977) mengenai situasi kebahasaan masyarakat Cina yang berbahasa Inggris di Malaysia dan Singapura. Masyarakat Cina di kedua Negara itu mempunyai verbal repertoire yang terdiri dari bahasa cina, bahasa Inggris formal, bahasa Melayu standar, dan Melayu bukan standar. Disamping itu terdapat bahasa Cina Mandarin yang mempunyai kedudukan khusus, dan harus dimasukkan dalam deretan repertoire bahasa itu. Penataan terhadap repertoire bahasa-bahasa penduduk Cina Malaysia yang berbahasa Inggris di Malaysia ini, secara actual disebut Linear poltglosia.
1.3 Kaitan Bilingualisme dan Diglosia
Bagaimana hubungan antara diglosia dan bilingualisme sebenarnya secara tidak langsung sudah dibicarakan di atas, tetapi untuk lebih jelas dan lebih eksplisit berikut ini kita bicarakan lagi. Diglosia diartikan sebagai adanya perbedaan fungsi atas penggunaan bahasa(terutama fungsi T dan R) dan bilingualisme adalah keadaan penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat, maka Fishman (1977) menggambarkan hubungan diglosia dan bilingualisme itu seperti tampak dalam bagan berikut:


Diglosia
+
-

+
1.      Bilingualisme dan diglosia
3.      Diglosia tanpa bilingualisme
2.      Bilingualisme tanpa diglosia
4.      Tidak diglosia tidak bilingualism
Bilingualisme


Dari bagian itu tampak adanya empat jenis hubungan antara bilingualisme dan diglosia, yaitu (1) bilingualisme dan diglosia, (2) bilingualisme tanpa diglosia, (3) diglosia tampa bilingualisme, dan (4) tidak bilingualisme dan tidak glosia. Di dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah individu yang bilingual, namun mereka tidak membatsaasi penggunaan satu bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka dapat menggunakan bahasa yang mana pun untuk situasi dan tujuan apapun. Contoh masarkat yang bilingual tetapi tidak disertai diglosia adalah masyarakat di Montreal, Kanada.
Di dalam masyarakat yang berciri diglosia tetapi tanpa bilingualisme terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama yang biasanya lebih kecil, merupakan kelompok ruling group yang hanya bicara dalam bahasa T. Sedngkan kelompok kedua, yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbicara R. Pola keempat dalam pembicaraan hubungan diglosia dan bilingualisme adalah masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingualisme. Di dalam masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala macam tujuan. Dari keempat pola masyarakat kebahasaan di atas yang paling stabil hanya dua, yaitu (1) diglosia dengan bilingualisme, dan (2) diglosia tanpa bilingualisme. Keduanya berkarakter diglosia, sehingga perbedaannya adalah terletak pada bilingualismenya.



Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking