Maandag 13 Mei 2013

KECERDASAN GANDA

Merupakan kemampuan, keunikan, dan kelebihan yang dianugrahkan allah kepada umatnya.
      Kecerdasan ganda bisa dimiliki secara alamiah maupun proses belajar mengajar. Seseorang guru wajib mengetahui kecerdasan apa yang dimiliki oleh peserta didiknya, disebabkan karena pesera didik hanyalah manusia biasa yang ingin dimengerti.
                    KECERDASAN GANDA.
1.  
             Kecerdasan linguistik verbal.
Orang yang memiliki kecerdasan linguistic verbal adalah orang yang mampu menggerakkan otak kanannya, bisa dikenal dengan orang yang aktif (pintar berbicara )
2. Kecerdasan logika matematika (seperti ahli pidato = berbicara, sastrawan = menulis )
Cirri-cirinya orang pendiam, kelihatan culun,bila dipandang suka merunduk.
3. Kecerdasan kinistetik (penari )-> atlet
         Ciri-cirinya tangannya sedikit lengkung, jarinya lentik, lemah gemulai)
4. Kecerdasan musical (penyanyi -> musisi )

Cirri – cirinya orangnya suka menyendiri
5.   
A.   A. Kecerdasan visual
Orangnya juga suka menyendiri.
Penyebab orang menjadi pelupa :
1. Sibuk.
2. Kurang tidur.
3. Tidak diulang.
4. Melihat aurat lawan jenis.
5. Bermaksiat.
Untuk menguatkan daya ingatan :
1       Banyak berdo’a
2.              Banyak bersedekah.
 
Cirri – ciri belajar :
1.   1. Secara sadar
2.   2. Berkesinambungan
3.   3. Berfungsi / bermakna
4.   4. Positif
5.   5. Aktif
6.   6. Tahan lama
7.   7. Terarah
8.   8. Keseluruhan.

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE


1. Alih Kode
Peristiwa pergantian bahasa yang digunakan dalam ilustrasi dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia, atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi ke ragam santai, inilah yang disebut alih kode di dalam sosiolinguistik. Memang tentang apakah yang disebut alih kode itu banyak batasan dari pendapat para ahli.
Appel ( 1976: 79 ) mendefenisikan alih kode itu sebagai “ gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya penggunaan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia yang di lakukan Nanang dan Ujang adalah karena berubahnya situasi, yaitu dengan datangnya Togar.
Berbeda dengan Appel yang mengatakan alih kode itu terjadi antar bahasa, maka Hymes (1875:103 ) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Pengalihan kode itu dilakukan dengan sadar dan bersebab.
Penyebab terjadinya alih kode itu, maka kita kembalikan pada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemukakan Fishman (1976:15), yaitu, “ siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa”. Dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum penyebab alih kode itu disebutkan antara lain adalah:
1.      Pembicara atau penutur
2.      Pendengar atau lawan tutur
3.      Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga
4.      Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya
5.      Perubahan topik pembicaraan
Seorang pembicara atau penutur seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu, lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Kehadiran orang ketiga atau orang lain tidak berlatar belakang bahsa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atau varian yang harus digunakan. Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Perubahan topik pembicaraan dapat juga menyebabkan terjadinya alih kode. Di samping lima hal di atas yang secara umum lazim di kemukakan sebagai faktor atau variabel lain yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa alih kode. Penyebab-penyebab ini biasanya sangat berkaitan dengan verbal repertoire yang terdapat dalam suatu masyarakat tutur serta bagaimana status sosial yang dikenakan oleh penutur terhadap bahasa-bahasa atau ragam-ragam bahasa yang terdapat dalam masyarakat tutur itu.
Dalam masyarakat tutur tertentu, terutama yang mengenal lingkungan sosial bahasa ( undak usuk) ada alih kode yang terjadi  tidak secara drasti, melainkan berjenjang menurut satu kontinum, sedikit demi sedikit, dari yang dekat sampai yang jauh perbedaannya. Sehingga alih kode ini tidak terasa “ mengagetkan “.
Soewito membedakan adanya dua macam alih kode yaitu alih kode intern dan alih kode ekstern. Yang dimaksud dengan alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antar bahasa sendir, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, atau sebaliknya, seperti percakapan antara sekretaris dan majikannya. Sedangkan alih kode ekstern terjadi antar bahasa sendiri ( salah satu bahasa atau ragam yang ada dalam verbal repertoir masyarakat tuturnya) dengan bahasa asing.
2. Campur Kode
Ahli kode dan campur kode, kedua peristiwa yang lazim terjadi dalam masyarakat yang bilingual ini mempunyai kesamaan yang besar, sehingga sering kali sukar dibedakan. Menurut Hill dan Hill (1980:122) dalam pengertian mereka mengenai masyarakat bilingual bahasa Spanyol dan Nahuli di kelompok Indian Meksiko, mengatakan bahwa tidak ada harapan untuk dapat membedakan antara ahli kode dan campur kode.
Kesamaan yang ada antara ahli kode dan campur kode adalah digunakannya dua bahasa atau lebih, atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur. Banyam ragam pendapat mengenai beda keduanya. Namun yang jelas, kalau dalam ahli kode setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakannya itu masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan sengaja dngan sebab-sebab tertentu seperti yang sudah dibicarakan diatas. Sedangkan didalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memilki fungsi dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat di dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode.
Menurut Thelander (1976;103) mencoba menjelaskan perbedaan ahli kode dan campur kode. Katanya, Bila didalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah ahli kode. Tetapi apabila didalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa, maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendirisendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode bukan ahli kode. Dalam hal ini menurut thelander selanjutnya, memang ada kemungkinan terjadinya perkembangan dari campur kode ke ahli kode. Perkembangan ini, misalnya dapat dilihat kalau ada usaha untuk mengurangi kehibridan klausa-klausa atau frase-frase yang digunakan, serta memberikan fungsi-fungsi tertentu sesuai dengan keotonomian bahasanya masing-masing.
 Menurut Fasol (1984) menawarkan kriteria gramatika untuk membedakan campur kode dan ahli kode. Kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah melakukan campur kode. Tetapi apabila satu klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatika satu bahasa, dan klausa berikutnya disusun menurut struktur gramatika bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah ahli kode.
Tawaran Fasold (1984) yang sejalan dengan pendapat Thelander (1976) tampaknya memang merupakan jalan terbaik sampai saat ini untukmembicarakan peristiwa campur kode dan ahli kode. Keduanya sukar dicari perbedaanya yang pasti, kalau kita bersikeras untuk berpegang pada konsep ahli kode dan campur kode seperti ang sudah dikemukakan diatas. Sebagai contoh perhatikan percakapan berikut yang dilakukan oleh para penutur dwibahasa Indonesia- cina putunghoa di Jakarta, diangkat dari laporanHaryono (1990)
Lokasi             : dibagian iklan kantor surat kabar Harian Indonesia
Bahasa             : Indonesia dan Cina Putunghoa
Waktu                         : Senin, 18 november 1988, pukul 11.00 WIB
Penutur            : Informan III (inf) dan pemasangan iklan (PI)
Topik               : memilih halaman untuk memasang iklan
Inf III              : Ni mau pasang dihalaman berapa? (anda, mau pasang di halaman berapa?)
PI                    : Di baban aja dech (di halaman delapan saja)
Inf III              : mei you a ! kalau mau dihalaman lain: baiel di baban penuh lho! Nggak ada lagi! (kalau mau dihalaman lain. Hari selasa halaman delapan penuh lho. Tidak ada lagi)
PI                    : na wo xian gaosu wodejingli ba. Ta yao di di baban a (kalau demikian saya beritahukan direktur dulu. Dia maunya di halaman delapan)
Inf III              : Hao, ni guosu tab a. jintian degoang goa hen duo. Kalau mau ni buru-buru datang lagi (baik, kamu beritahu dia. Iklan hari ini sangat banyak. Kalau mau kamu harus segera datang lagi)

Menurt Haryono, kedua partisispan itu sudah akrab. Hal itu tampak dari penggunaan pronominal persona kedua tunggal ni “kamu”. Kata ganti yang sama yang menatakan hormat adalah Xiansheng. Dilihat dari segi penggunaan bahasa cina putunghoa, yaitu bahasa cina diale Bejing ( yang disepakati untuk digunakan sebagai bahasa pergaulan umum atau sebagai alat komunikasi resmi di RRC dan Taiwan), tampaknya tidak begitu menyimpang dari kaidah yang ada. Di sini dilihat bahwa meskipun pembiicaraan tentang pemasangan iklan adalah masalah formal, tetapi nyatanya ragam bahasa yang digunakan ragam bahasa formal melainkan ragam nonformal. Dengan demikian dapat dikatakan telah terjadi penyimpangan pemakaian fungsi bahasa.maka masalah kita sekarang adalah mengapa bisa terjadi begitu, yakni ragam bahasa non formal digunakan pada situasi formal. Kiranya hal ini berkenaan dengan tingkat kemampuan berbahasa si penutur, yang baru bisa berbahasa Indonesia ragam tak formal (dalam hal ini bahasa Indonesia dialek Jakarta) dan belum dapat menggunakan ragam formal. Ini tentunya merupakan satu “kesalahan”  dalam sosiolinguistik. Masalah ini biasanya dibicarakan dalam kaitannya dengan topic interferensi dan integrasi
Dari contoh peristiwa tutur yang diberikan Hryono, akhirnya bisa dikatakan, bahwa menentukan beda peristiwa ahli kode dan campur kode memang tidak mudah. Dalam peristiwa tutur itu, bila mau dikatakan telah terjadi ahli kode berdaarkan rumusan yang telah dibicarakan adalah tidak mudah, sebabperalihan bahasa yang terjadi tidak ada sebabnya,kecuali kemampuan para partisipan terhadap ragam formal bahasa Indonesia yang memang masih rendah. Kalau mau dikatakan telah terjadi suatu campur kode juga agak sukar sebab tidak jelas mana yang bahasa bahasa inti dan mana yang merupakan serpihan. Oleh karena itu, barang kali, hala inilebih tepat dibicarakan dalam bab tentang interferensi. Lalu, sejalan dengan yang dibicarakan dalam diglosia,bahwa ragam formal suatu bahasa memang harus dipelajari dalam pendidikan formal, kiranya partisipan diatas tidak pernah mengalami pendidikan itu.

Donderdag 02 Mei 2013

SASTRAWAN KONTEMPORER


BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan Masalah

1.1.1        Latar Belakang
Dewasa ini, berbicara mengenai sastra kontemporer tidak terlepas dari karya-karya sastrawan kontemporer. Sastrawan kontemporer memiliki peranan yang penting dalam perkembangan sastra kontemporer di Indonesia mutakhir ini. Sastrawan kontemporer muncul pada tahun 1970-an seiring dengan perkembangan sastra di indonesia. Sastra yang sebelumnya terikat oleh aturan-aturan tertentu  atau konvensional, sekarang berusaha lari dari ikatan konvensional atau tidak terikat aturan-aturan tertentu. Sastrawan kontemporer berusaha melakukan pembaharuan dalam bidang sastra dengan  menciptakan karya sastra yang berbeda dari karya sastra sebelumnya. Pembaharuan yang dilakukan oleh sastrawan kontemporer merupakan akibat dari perkembangan sastra Indonesia yang berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Purba (2010: 7) memberi penjelaskan sebagai berikut: “Konsep sastra 70-an itu dapat dikatakan sebagai protes terhadap kepincangan-kepincangan masyarakat pada awal industrilisasi. Konsepsi ini dituangkan dalam karya-karya penuh dengan eksperimen, baik bentuk maupun bahasanya”.
Purba (2010: 6) menjelaskan sebagai berikut:
Sejak 1970-an sastra indonesia kontemporer mengalami perkembangan. Perkembangan. Perkembangan itu dilatarbelakangi oleh adanya suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal ini ditandai oleh spirit dan semangat modern. Disamping itu semangat kontemporer tidak lagi dijiwai oleh industri, tetapi oleh persoalan kehidupan. Afrizal malna juga mengamati perkembangan sastra kontemporer, ia berpendapat bahwa perkembangan sastra kontemporer tidak lagi dilihat dari segi pertumbuhan karya saja, tetapi lebih dicerminkan oleh kreaktornya dengan perubahan besar dan mendasar. Jika kita mengamati para sastrawan pra 70-an  kebawah, terlihat betul untuk apa mereka menuliskan karyanya dan menjadi sastrawan. Ketika menuliskan terlebih dahulu sebanyaknya, kemudian melakuka penggalian terhadap dunia, belajar filsafat, dan meneliti dasar-dasarnya.

            Sastrawan kontemporer menurut Depdiknas (2008:1230)  adalah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa dan fiksi, pandai-pandai, cerdik cendikia. Sastrawan menurut Depdiknas (2008: 729) adalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa ini. Jadi sastrawan kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu.
            Sastrawan adalah ahli sastra. Ahli sastra tentunya mampu membuat karya-karya sastra yang banyak (sastra kontemporer). Sudjiman dalam Purba (2010:2) sastra merupakan (literature, inggris, literatur, Jerman, literature, Francis) adalah karya sastra lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti koorsinilan, keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapan. Sedangkan menurut Rahmanto dalam Purba (2010:3) mengungkapkan bahwa sastra tidak seperti halnya ilmu kimia atau sejarah, tidaklah menyuguh ilmu pengetahuan dalam bentuk. Jadi, sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam dengan keseluruhannya.
Sastra-sastra kontemporer muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang sudah beku  dan tidak kreatif lagi. Sastra kontemporer merambah pada seluruh jenis karya sastra, seperti novel, puisi, dan drama. Tokoh-tokoh sastra ini pada zamannya termasuk sastrawan mudah pada tahun 70-an. Munculnya sastra kontemporer merupakan reaksi terhadap sastra konvensional yang dianggap telah mendominasi eksistensi karya sastra. Bahkan sastrawan mudah merasa “sumpeg” dengan karya sastra yang telah ada karena masa terbelenggu daya kreasinya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka wajarlah jika para sastrawan kontemporer mengeluarkan banyak karya-karya sastranya. Salah satunya yaitu karya sastra dari Sutardji Calzoum Bachri. Sutardji Calzoum Bachri merupakan panyair besar indonesia dan ia mengawali kepenyairannya sekitar tahun 1970-an. Karya Sutardji lebih menempatkan bentuk fisik dan tulisan dalam kedudukan yang terpenting  pada makna. Dalam puisi karya-karyanya memang mempunyai makna yang tersembunyi dan sulit dipahami. Salah satu karyanya adalah “Hujan”. Walaupun bentuk tulisan yang tidak teratur karena bentuknya yang zig-zag dan banyak pengulangan kata serta maknanya sulit dipahami, namun puisi itu sangat mempunyai makna berarti bagi penyair atau semua makhluk hidup karena hujan banyak membawa manfaat untuk kelangsungan hidup manusia, tumbuhan, maupun hewan.
            Sastrawan kontemporer ini mencakup semua karya sastra yang ada. Keanekaragaman tema karya sastra yang mereka keluarkan semakin variatif ketika pascareformasi. Sejak dibubarkannya Departemen Penerangan dan ‘dimudahkannya’ proses penerbitan sebuah karya, maka banjirlah sastra di Indonesia dengan berbagai alirannya.
1.1.2        Masalah
Berdasarkan latar berlakang di atas, maka dapat penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah pengertian Sastrawan Kontemporer?
2.      Siapa sajakah Sastrawan Kontemporer di Indonesia ?
3.      Sebutkan karya-karya Sastrawan Kontemporer?

1.2  Tujuan
Berdasarkan latar belakang, makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian Sastrawan Kontemporer
2.      Untuk mengetahui nama-nama Sastrawan Kontemporer
3.      Untuk mengetahui karya-karya Sastrawan Kontemporer

1.3  Manfaat
Penulisan makalah ini mempunyai manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat dalam menerapkan dan memperdalam intelegensi pembaca mengenai sastrawan kontemporer dan supaya hasil penulis makalah ini dapat menjadikan rujukan atau bahan referensi penulis selanjutnya untuk tercipta sebuah karya tulis yang sempurna. Adapun manfaat praktis, semoga  dengan hasil penulisan makalah ini pembaca pada umumnya dan penulis  pada khususnya dapat mengimplementasikan karya-karya sastrawan kontemporer.


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sastrawan Kontemporer
            Menurut Depdiknas (2008:1230) Sastrawan adalah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa dan fiksi, pandai-pandai, cerdik cendikia. Menurut Depdiknas (2008: 729) Kontemporer adalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa ini. Jadi sastrawan kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu.
            Sastrawan kontemporer tidak hanya berhenti dalam produktivitas, tetapi lebih-lebih dalam pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru. Sastra kontemporer dalam karyanya melahirkan eksperimen berupa penjungkirbalikan kata, penciptakan kata-kata baru, penciptaan idiom-idiom baru dan sebagainya. Purba(2010:15) “Misalnya Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada eksistensi bunyi dan kekuatannya”. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji benar-benar memberi wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi Indonesia.
            Sastrawan kontemporer melakukan suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal ini ditandai  dalam karyanya banyak yang mengambil ide atau gagasan dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sastrawan kontremporer memiliki peranan dan fungsi yang penting dalam perkembangan sastra di Indonesia muktahir ini. Keberadaan sastrawan kontemporer memberi warna yang berbeda dalam perpuisian, cerpen dan novel di Indonesia. Karya sastra kontemporer menjadi suatu awal pembaharuan cara berekspresi para penyair dan pengarang kontemporer.
2.2  Nama-nama dan Identitas Sastrawan Kontemporer
1.      I Dewa Putu Wijaya
Putu Wijaya lahir pada tangggal 11 April 1944 di Tabanan (Bali) dan bekerja sebagai wartawan.  Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri.Contoh karya-karyanya yang banyak diperbincangkan yaitu Telegram, Pabrik, Stasiun, Keok, Sobat, Tak cukup sedih, Ratu, Edan, Bila Malam Bertambah Malam, Aduh, Perang, Ms Novelet, dan nyali.
2.      Iwan Simatupang
Iwan Simatupang lahir pada tanggal 18 Januari 1928 di Sibolga (Sumatra Utara). Beliau menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, tidak satu pun yang tamat, dengan  bidang ilmu kedokteran (Surabaya), belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Beliau pernah menjadi Guru, wartawan dan pengarang, yang hasil karyanya kebanyakan merupakan karya sastra absurd, irrasional dan filosofis. Beliau telah  mengarang semua genre sastra: Cerpen, Novel, Puisi, Drama, Esei dan kritik sastra. Beliau wafat pada tanggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu Merahnya Merah (1977), Kering (1972), Ziarah (1976), Koong, kisah tentang seekorperkutut (1975), Tunggu Aku dipojok Jalan Itu, Jang Tak Terpadamkan (Cerpen 1965), Perang di Taman (Drama 1966), Tegak Lurus dengan Langit (Antologi Cerpen 1982) dan Monolog Simpang Jalan.
3.      Linus Suryadi A.G
Linus Suryadi dalam puisi-puisinya dimuat idiom jawa. Ia juga mampu menciptakan kuatrin yang pekat. Di samping itu terdapat unsur budaya jawa, bahasa yang prosais, tidak dikenalnya kata atau istilah tabu. Contoh karyanya yaitu Pengakuan pariyem (Novel 1988), Syair-syai dari Yogya (Sajak 1978), Langit Kelabu (Sajak 1976), dan maria dari magdala.
4.      Korrie Rayun Rampan
Lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda. Beliau merupakan seorang sarjana yang bekerja sebagai wartawan. Beliau dalam karya sastranya mengungkapkan tradisi Kalimantan. Contoh karyanya yaitu: Upacara (Novel 1978), putih! putih/putih! (1975), Sawan (Puisi 1978), Api Awan Asap (Novel, 1976), lingkaran kabut, perawan dan Danau liaq(2002).
5.      Remi Silado
Remi Silado banyak menciptakan mbeling atau puisi lugu. Puisi  ini mengungkapkan hidup sosial kota-kota besar yang sering menampilkan sikap yang skeptis, pesimis, anarkhis dan individualis. Puisi mbling adalah puisi yang secara blak-blakan, lugu tanpa menghiraukan diksi tradisional. Contoh karya yaitu: Gali Lobang Gila Lobang (Roman) dan Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan (Sajak).

6.      Kuntowijoyo
Kuntowijaya lahir pada tanggal 8 September 1943 di Yogyakarta. Beliau merupakan Dr. Sastra yang berprofesi sebagai dosen U     niversitas Gajah Mada, pengarang dan sejarawan. Contoh karya yaitu: Suluk awang-uwung (Sajak 1975), pasar (Novel, 1972), Kotbah di atas Bukit (1976), Isaraf (1976), Keta api yang Berangkat Pagi hari (1966), Impian Amerika (1997), dan Daun Makrifat (Cerpen).
7.      Budi Darma
Budi darma merupakan Dr. Sastra yang pernah menjadi rektor IKIP di Surabaya. Beliau adalah sorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Contoh karyanya yaitu: Rafilus, Olenka (Novel, 1983), Orang-orang Bloomington (Antologi cerpen 1980), dan Kritikus Adinan (Cerpen, 1974).
8.      Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji penyair kelahiran Rengat (Riau) tanggal 24 Juni 1941, dari suku bangsa Melayu. Pendidikan SD sampai SMA ditamatkan di Tanjung Pinang (Kepri) dan selanjutnya melanjutkan ke jurusan Administrasi Negara Fakultas Sosial Politik Universitas Pajajaran Bandung, sampai tingkat II  (Program Doktoral/lama). Oleh karena tingginya minat dan intensitasnya kepada sastra, khususnya puisi, ia berhenti kuliah. Beliau mengarang puisi, cerpen, esei dan kritik sastra. Dia termasuk salah satu pembaca puisi terbaik indonesia sampai saat ini dan telah membacakan puisinya di Rotterdam International Poetry Reading (Belanda) tahun 1975. Pada tanggal 26 Januari 1976, Sutardji mengumumkan dirinya secara lisan dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki menjadi Presiden Penyair I            ndonesia. Karya sastra beliau berangkat dari tradisi mantera (Melayu). Contoh karyanya yaitu: “O” (Sajak-sajak 1973), Amuk (1977), Hujan Menulis Ayam (2001), O Amuk Kapak (1981), Kredo puisi, Jadi, Batu, Shanghai, Pot, Idul Fitri dan  Winka Sihka.
9.      Ibrahim Sattah
Ibrahim lahir di Tarempa pada tahun 1945. Beliau menamatkan SMA dan bekerja menjadi Polisi Militer, Pendiri Bumi Pustaka dan dramawan. Beliau selain mengambil efek puitik mantera, juga mengambil permainan kanak-kanak, lagu-lagu dan cerita rakyat Melayu Riau sebagai sumber pengucapan puitiknya. Mantera itu bukan lagi mantera tradisional untuk menyihir dan orang sakit, melainkan mantera modern yang menyarankan yang baru dengan cara tersendiri. Beliau wafat tanggal 17 Januari 1987. Contoh karyanya yaitu: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), Hai Ti (1981), Duka dan Wawa.
10.  Abdul Hadi Widi Muthari
Abdul Hadi lahir di Sumenep tahun 1945. Beliau adalah seorang Dr. Sastra di Universitas Sains Malaysia (1999). Beliau seorang lirikus dengan kedalaman sikap religiusnya yang intens selalu tercermin pada banyaknya puisinya. Beliau berpendapat aku dan alam tidak lain adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu diakrabi untuk melahirkan tindakan-tindakan kreatif. Melihat dan merasakan suasana lirik yang kental dalam puisi Abdul Hadi, W.M. Latunan pesona puisi Abdul Hadi W.M lain pula dengan getaran yang bergelora pada puisi-puisi Sutardji. Kalau Sutardji tampak liar dan gelisah dalam menggapai Tuhan, maka Abdul Hadi W.M, terasa memencarkan pesona langit. Contoh karyanya yaitu: Riwayat (1967), Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang seorang Pengunjung Pantai sanur (kumpulan sajak 1967-1971), Cermin ( sajak 1972-1975), Meditasi ( sajak 1971-1975) dan Tergantung Pada Angin ( kumpulan sajak, 1975-1976).
11.  Arifin C.Noer
Arifin adalah seorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Arifin merupakan sastrawan yang menciptakan karya sastra dari kehidupan manusia. Contoh karya yaitu: Beberapa puisi dalam Horison (1966-1967), Sepasang Pengantin (Drama, 1968), Kapai-kapai (Sandiwara, 1970) dan Kasir Kita (1972).
12.  Danarto
Danarto  lahir pada tanggal 27 Juni 1940 di Sragen. Dalam karyanya beliau kembali ke akar tradisi atau kembali ke sumber  ialah suasana purbawi ke dalam puisi-puisi tanpa kehilangan kemodeman. Beliau berurusan dengan kata-kata dan bagaimana menuangkan pengalaman batin dan rasa untuk menemukan darah sekaligus daging dalam puisi. Beliau menggunakann tokoh-tokoh yang abiotik dan hewan dapat berbicara dan perilaku seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: godlob (Cerpen, 1974), Adam Makrifat (Cerpen, 1982), Berhala (Cerpen, 1987), Argagendon, Rintrik dan  Kecubung Pengasihan.

13.  Darmanto Jatman

Darmanto lahir di Jakarta pada tahun 1942. Beliau terkenal dengan puisi-puisinya yang terdiri  dari campur baur berbagai macam bahasa yang dipadukan dengan kata seru yang menghentak dan lembut menggambarkan kesemrawutan kebahasaan masyarakat modern, ia lebih mbling dari Remi Silado. Ia lebih memiliki kesungguhan mengugat, mencemooh, menyelesaikan sesuatu. Contoh karyanya yaitu: Bngsat (1974), Sang Darmanto (Sajak).

14.  Ediruslan Pe Amariza
Ediruslan lahir pada tanggal 17 Agustus 1947 di Bagan siapi-api. Beliau adalah seorang pengarang, Ketua Dewan Kesenian Pekanbaru, dosen, wartawan dan anggota DPRD Riau. Beliau meninggal bulan Mei 2000 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu: Vagaban, Pekanbaru (Puisi, 1975), Surat-suratku kepada GN (Puisi 1983), Bukit Kawan (Antologi puisi, 1985), Di Bawah Mentari (Novel, 1981), Jakarta, Dimanakah sri (1982), Taman (Novel, 1983), Jembatan/ kekasih Sampai Jauh, Nakhoda (Novel), Ke Langit (1993), Panggil Aku Sakai (Novel, 1987), Kayah, Umi Kalsum (Drama), Renungkan Markasan (Cerpen, 1997) dan Dikalahkan Sang Sapurba (Novel, 1999).

15.  Eko Budianta, C.A
Eko budianta merupakan sastrawan yang melakukan suatu perubahan dalam karya sastranya. Beliau adalah seorang yang selalu membedakan karya sastranya dengan sastrawan zaman dahulu.  Contoh karya yaitu: Ada (buku puisi, 1976), Bel, 28 puisi (1977), Real (Puisi, 1977)  dan Puisi ASEAN (1978).

16.  Emha Ainun Najib
Emha Ainun Najib adalah penyair religius yang sezaman dengan Sutardji. Ia sangat peka terhadap permasalahan sosial. Ia berpendapat bahwa puisi akan mampu merangsang untuk menguak berbagai jalan ke cakrawala. Ia bisa menerima yang kontemplatif tetapi yang aktif. Hal itu dimasukkannya puisi boleh ke luar rumah tetapi tetap membawa nurani bilik sunyinya, seperti juga puisi kamar yang sunyi dapat menangkap alam dan udara di luar jendela. Bagi Emha, puisi itu semacam barang mainan ia tidak begitu sering akan tetapi ia menjadi penting dan utama bila mampu menawarkan suatu dunia  dalam. Dunia dalam ini adalah sekaligus dari luar yang tidak terbatas.  Contoh karyanya yaitu: Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 Untuk Tuhanku (1978), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990) dan Nocturno.




17.  Rachmad Djoko Pradopo
Rachmad merupakan pakar bahasa Indonesia dan penyair puisi Indonesia. Rachmad membuat ciri-ciri puisi kontemporer Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Matahari Pagi di Tanah Air (puisi,1967), Sajak-sajak (1975) dan Matahari Di tengah Hutan (1994).
18.  Sapardi Djoko Damono
Sapardi sebagai penyair imajis karena susunan kata didalam puisinya mampu menghadirkan suasana yang sarat dengan citra lihatan,M.S. Di dalam puisi Sapardi ini susunan katanya mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia melukiskan yang terdiri dari citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati namun menjadi hidup setelah diberi nyawa oleh Sapardi. Jika kita pernah membaca fabel dengan binatang tiang listrik, hujan, kabut bisa berbicara seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: Akuarium (Sajak, 1974), Mata Pisau (sajak, 1974), Dukamu A(sajak, 1975), Lirik Parsi Klasik (1977), Arloji (Antologi puisi, 1999) dan Pus Puisi Cat Air untuk Rizki.
19.  Umar kayam
Umar Kayam lahir tanggal 30 April 1932 di Ngawi. Beliau adalah seorang Dr.Sastra, dosen Universitas Gajah Mada dan pengarang. Beliau wafat bulan Desember 2002 di Jakarta.
Contoh karyanya yaitu: Seribu Kunang-kunang di manhattan (Cerpen 1972), Sri Su Marah dan Bawak (1975 ), Para Priyayi (Novel 1995), Jalan Menikung (2000), Istriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa.
20.  Taufik Ikram Jamil
Taufik Ikram Jamil lahir pada tanggal 19 September 1963 di Teluk Belitung. Beliau adalah seorang sarjana FKIP UNRI, wartawan dan pengusaha. Beliau juga banyak membuat karya sastra khususnya cerpen. Contoh karyanya yaitu: Tersebab Haku Melayu (puisi, 1995), Sandiwara Hang Tuah (cerpen, 1996), Membaca Hang Jebat (1998), Hempasan gelombang (1999).
21.  Yudhistira ANM Massardi
Yudhistira ANM Massardi lebih mbeling lagi dari Remi Silado dsan Darmanto Jatman. H.B. Jassin berpendapat bahwa puisi-puisinya memberikan kesan yang dibuat oleh anak-anak yang tak berdosa lagi. Contoh karyanya yaitu: Arjuna Mencari Cinta (1977), Ding Dong (1978), Sajak  Sikat Gigi (1978), Biarin, Sajak Dolanan Anak-anak.
22.  Darman Moenir
Darman Moenir lahir pada tanggal 27 Juli 1952 di Batusangkar. Beliau seorang Sarjana Bahasa Inggris UBH Padang. Contoh karyanya yaitu: Bako (1980), Kenapa Hari Panas Sekali (puisi,1973), Gumam (1976), Kabut, Batu, Kampung Kecil (Cerita Bersambung di SK Haluan).
23.  Idrus Tintin
Idrus Tintin lahir pada tanggal 10 Oktober 1932 di Rengat. Beliau tamatan SMA, Buruh, pengarang, wartawan, guru, Ketua Dewan Kesenian Riau. Contoh karyanya yaitu: Luput (1986), Burung Waktu (1990), Nyanyian di Lautan Tarian di tengah Hutan (1996).
24.  Hasan Junus
Hasan Junus lahir pada tahun 1942 di P. Penyengat. Beliau  tamatan ABA Bandung, Guru, kolumnis dan pengarang. Contoh karyanya yaitu: Burung Tiung Srigading (1978), Pelangi Pagi dan Sejumlah Cerita Lain (Cerpen, 1999).
25.  Aspar
Aspar (Andi Sopyan Paturisi) lahir pada tanggal 19 April 1943 di Bulukumba. Beliau meruapakan sastrawan kontemporer yang bergelut dalam karya sastra novel. Contoh karyanya yaitu: Arus (Novel, 1976), Pulau (Novel, 1976), Sajak-sajak dari Makassar.
26.  F. Rahardi
F. Rahardi dengan kumpulan puisinya menampilkan kenakalan-kenakalan dengan humor-humor yang tinggi dan kadang-kadang konyol tetapi segar. Beliau merupakan sastrawan kontemporer yang banyak membuat karya sastra marginal.  Beliau adalah sastrawan yang pertama memciptakan karya sastra marginal di Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Silsilah Garong.
27.  Afrizal Malna
Afrizal sejak 1983 puisi-puisinya diperhatikan karena imaji simboliknya yang memukau. Ia juga memerhatikan pemilihan kata yang kadang-kadang menggebu-gebu. Puisi-puisi beliau di dalam kumpulan Abad yang Berlari, kebanyakan tidak berdasarkan otak, tetapi berdasarkan roh kata-kata yang liar dan berdarah. Contoh karyanya yaitu: Gelora Burung
28.  Y.B Mangunwijaya
Mangunwijaya banyak mengarang novel-novel sejarah. Beliau telah menghayati akar-akar tradisi jawa. Beliau berasal dari suku Jawa. Karya sastra yang ditulis beliau mengacu pada naskah kuno atau melalui penelitian-penelitian dan mempunyai muatan sejarah yang kuat. Contoh karyanya yaitu: Ikan-ikan Hiyu, Idohoma (1983), Roro Mendut (1981), Genduk Duku (1986), Setadewa dan Lusi Lindri (1987).
29.  N.H. Dini
N.H. Dini dalam karya sastranya memiliki nilai yang universal dan tema yang dikemukakan adalah problem manusia pada umumnya. Beliau adalah sastrawan yang berwawasan budaya internasional yang mempelajari berbagai macam problem kehidupan sosial dalam masyarakat dunia. Karya sastra beliau banyak yang berbentuk novel kontemporer Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Sri.
30.  Pramudya Ananta Toer
Pramudya Ananta toer  adalah seorang sastrawan yang dalam karya sastranya mengangkat tema tentang kehidupan manusia sehari-hari. Beliau adalah seorang novelis sastra kontemporer. Contoh karyanya yaitu: Bumi Manusia (1980).
31.  Ngarto Februana
Ngarto Februana seorang sastrawan kontemporer yang menggeluti karya sastra khususnya novel Indonesia kontemporer. Beliau merupakan sastrawan yang karya sastra banyak berbentuk novel. Contoh karyanya yaitu: Menolak untuk Pulang (2000).
32.  Sides Sudyarto
Sides Sudyarto yaitu seorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan dan belum dikenal masyarakat umum. Contoh karyanya yaitu: Gerisa.


33.  Jeihan
Jeihan adalah seorang sastrawan yang menggunakan simbol-simbol dengan menampilkan atau kalimat seruan yang sedikit. Contoh karyanya yaitu: Viva Pancasila.
2.3 Karya-karya Sastrawan Kontemporer             
2.3.1 Puisi Kontemporer
Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri
Mantera
Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi dalam rupa dupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi kau!
Kasihku
Analisis:
            Puisi mantera merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau kembali keakar tradisi masyarakat Melayu Riau. Kata-kata dalam puisi mantera seperti kata-kata yang diucapkan oleh dukun atau pawang. Puisi ini bernuansa mistik atau ghaib.

Shanghai
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Tak ya pong tak ya ping
Tak ya ping tak ya pong
Ku tak punya ping
Ku tak punya pong
Pinggir ping ku mau pong
Tak tak bilang ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarak Mu menancap nyaring
Analisis:
             Puisi Shanghai adalah puisi yang sangat memperhatikan unsur bunyi dan bewrbentuk puisi mantera.  Dalam puisi Shanghai terdapat pembaharuan yaitu kata-kata yang biasanya terdapat di dalam mantera. Sutardji melakukan inprovisasi dalam penciptaan puisi-puisinya. Puisi ini ditujukan kepada Sang Pencipta alam semesta.
Batu
Batu mawar
Batu langit
Batu duka
Batu rindu
Batu jarum
Batu bisu
Kaukah itu
Teka
Teki
Yang
Tak menepati janji?
Dalam seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh? Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.
Kau tahu?
Batu risau
Batu pukau
Batu-Kau-ku
Batu sepi
Batu ngilu
Batu bisu
Kaukah itu
                       Teka
Teki
Yang
Tak menetapi
                     Janji?
Analisis:
Puisi batu merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau puisi ynag kembali kewarisan budaya mistik zaman dahulu. Puisi batu merupakan puisi yang melambangkan seseorang yang memiliki sifat keras kepala yang dilambangkan dalam puisi ini dengan kata batu.


Walau
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah
Dulu pernah kuminta Tuhan
Dalam diri
Sekarang tak
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak
Tujuhb puncak membilang-bilang
Nyeri hari mengucap-ucap
Di butir pasir kutulis rindu-rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah

Analisis:
Puisi walau terlihat nilai religius yang tinggi. Puisi ini menjelaskan bahwa manusia tidak ada apa-apanya dihadapan Allah Swt. Kemampuan manusia ada batasnya tetapi kemampuan Allah tidak tertandingi oleh apapun di muka bumi. Oleh karena itu, manusia tidak boleh bersifat sombong, angkuh, dan sebagainya, karena manusia hanya makhluk ciptaan Allah Swt.
Tanah Airmata
Tanah airmata tumpah dukaku
Mata air airmata kami
Airmata tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanah-Mu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedung-Mu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemana pun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemana pun kalian terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemana pun berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami.
Analisis:
Puisi Tanah Airmata merupakan puisi tentang kritik sosial. Puisi ini menjelaskan bahwa kesedihan rakyat terhadap tanah air yang tercinta. Dalam puisi ini rakyat tidak bisa berbuat apa-apa di tanah airnya sendiri, karena tanah air yang mereka tinggali tidak seperti dulu lagi. Dahulu tanah air mereka subur, aman, dan damai, sekarang sangat memprihatinkan.
Dandandid
Maka adalah pasir
Maka adalah batu
Adalah bayang
Dan ini dan itu Engkau dan aku: DANDANDID
Di sana pasir di sini pasir si sana batu di sini batu
Di sana bayang di sini baying di sana air di sini air
Maka adalah lengang
Terkapung dalam beragam makna di mana aku ada
Dan sebagaimana biasa aku pun bisa
Sesuatu
Yang tak kutahu
            Indandid indekendekid indekandekuman
            Indaddid
Kaukah itu
Yang membasuh kaki yang membasuh bumi
Yang tak ada yang hilang tak hilang
Jauh tak jarak dekat tak sentuh
Di pasir di batu di baying di air di sunyi di situ di sana
Di sini
Kuraba halamu
Kusapa jua dirimu
Kanakkanah dan kupu-kupu
Yang di kakimu itu DANDANDID
Indekandekid indekandekudeman indandid
Karya : Ibrahim Sattah
Analisis:
Puisi Dandandid merupakan puisi yang berbentuk matera. Didalam puisi ini bertolak dari pengalaman kanak-kanaknya dengan lagu malam anak serta dogeng ke dalam puisi-puisinya. Puisi ini berusaha melakukan pembaharuan dengan kata-kata yang digunakan dalam puisi ini terlihat bahwa penyair ingin  mengabungkan nilai matera dengan puisi yang menceritakan lagu anak-anak.
Pus Puisi Cat Air Untuk Rizki
            Angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel
            Telepon itu,” aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”
            Kabel telepon memperingatkan angin yang sedang memungut
            Daun itu dengan jari-jarinya gemas,” jangan berisik menganggu
            Hujan!”
Hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya,” lepaskan daun itu.
Karya: Sapardi Djoko Damono
Analisis:
Puisi ini sastrawan melakukan eksperimen sederhana, melainkan di balik kesederhanaannya itu ada sesuatu yang mencuit tiba-tiba bisa membedakan Sapardi dengan penyair lainnya. Dalam puisi ini susunan katanya mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia melukiskan yang terdiri dari citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati namun menjadi hidup setelah diberi nyawa oleh sapardi. Dalam puisi ini terlihat bahwa angin, kabel telepon, hujan kabut seolah berbicara seperti manusia.
Gerisa
Ya maraja jaramaya
Ya marani niramaya
Ya silapa palasiya
Ya mirado rodaminya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya
Karya: Sides Sudyarto
Analisis:
Puisi ini sastrawan melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkirbalikan dan belum dikenal masyarakat umum. Kata-kata dalam puisi ini sulit dipahami karena kata-katanya inkonvensional sehingga harus benar-benar dipahami agar bisa mengerti maksud dalam puisi ini.
V!
!VIVA PANCASILA!
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
            VVVVVVVVVVVVVVVVV
                                    V!
                ! VIVA PANCASILA !
Karya: Jeihan
Analisis:
Puisi ini mengunakan simbol-simbol dengan menampilkan atau kalimat seruan yang sedikit. Puisi ini sangat sulit diartikan dan dipahami karena puisi hanyan terdiri dari simbol-simbol. Sastrawan kontemporer melakukan perubahan dalam karya sastra khususnya puisi terlihat dalam puisi ini pembaca sangat sulit dimengerti.
2.3.2 Cerpen Kontemporer
Cerpen Korrie Layun Rampan
Danau Liaq
            Rumpun bemban masih saja seperti dahulu, saat mula aku mengenal danau itu. Rumpun-rumpun itu kembali mengingatkan kau akan masa kanakku yang hilang di situ. Dahulu, kata ibu, menurut kisah yang didapatnya dari nenek, Danau Liaq berasal dari pusaran seekor bulus yang harus bertelur sejuta. Ia dikutuk karena memakan durian kesayangan raja. Karena ditanam arah ke tepi sungai, buah-buah durian itu banyak yang jatuh dari pasir pantai, dan buah-buah berduri itu menjadi mangsa bulus. Entah bagaimana caranya, bulus itu bisa membuka durian-durian jenis durian buaya atau duarian monthong itu, dan memakannya dengan lahap. Apakah ia menunggu sampai durian itu mereka, atau ia mengigit bagian bawah durian, sehingga juring durian terbuka. Tak ada yang tahu secara jelas, bagaimana sebenarnya bulus itu mampu mendapatkannya dan memakan daging durian yang manis beralkohol itu.
            Oleh karena kutukan itu, bulus itu membuat pusaran yang luas di pasir untuk tempatnya bertelur. Pusaran itu menjadi lebar dan dalam dan bekas pusaran bulus itu berubah menjadi danau. Orang kampong di zaman itu menyebutkan Danau Liaq yang bermakna danau ciptaan bulus karena kutukan dewa pemarah!
            Aku tak terlalu percaya dengan kisah itu. Namun aku suka memancing didanau itu, terutama karena aku tertarik dengan bentuk danau yang bundar seperti nyiru. Sekeliling danau merimbun rumpun bemban, dan disela-sela bemban itu berkeliaran ikan gabus dan ikan lele yang besar lagi gemuk. Jika memancing dengan umpan cacing atau belalang, sering aku mendapat ikan boyon, ikan lais dan baung yang enak sekali rasanya. Jika ikan itu dipepes atau dibakar, rasa dagingnya gurih manis. Sebelum aku pindah ke kota karena harus melanjutkan sekolah di sebuah SMP di ibukota kecamatan, aku selalu datang ke danau itu pada waktu-waktu tertentu dengan tujuan mancing atau mengangkat bubu dan pengirei yang diberi umpan untuk jenis ikan pepuyuh dan kelabeuw. Terakhir aku jera karena tiba-tiba saja di dalam bubu melingkar ular bentung yang berbisa, dan aku berteriak memanggil ibu. Kalau aku sempat dipatuknya, entahlah nasibku, mungkin sudah menjadi tanah seperti nenek moyang yang dikubur di dalam tempelaq yang berupa kuburan gantung.
            Danau itu hampir saja terlupa dari ingatku jika aku tidak kembali setelah lulus dari sebuah perguruan tinggi di             Jakarta. Peristiwa ular bentung seperti terpeta di depan mata membuat aku bertanya kepada ibu, apakah masih ada orang yang mancing, memasang pukat atau bubu dan menarik pancing bentang di danau itu. Dimasa kanakku, aku bersama kakakku Tingang suka memasang jaring untuk menangkap ikan biawan dan ikan kapar yang enak rasanya. Telur biawan jika dikonsumsi terlaku banyak, akan membuat anus menjadi licin berminyak. Telur ikan itu akan menjadi musuh beteleq, karena buahan itu akan bisa membuat anak-anak tidak bisa buang air besar. Jika makan telur biawan, urusan WC menjadi lancar, meskipun makan beteleq seberangka banyaknya.
            Danau Liaq adalah danau masa kanak. Belasan tahun aku tak pernah mernjenguknya karena aku kuliah di Jakarta. Namun kini saat aku melihatnya kembali, hatiku jadi terbuka untuk sebuah ide ikan keramba. Bukankah danau itu sangat bagus untuk dijadikan lahan menanam berbagai jenis ikan yang nantinya akan dipanen untuk dijual dipasar-pasar Damai, Berong Tongkok, Melat, Linggang Bigung, Lambing, Jengan Danum,dan Samarinda.
            “Tapi di kiri kanan danau itu memiliki rahasia yang seram,” kawanku Tuwala berkata dengan nada khawatir. ”harus berhati-hati menghindari murkah.”
            “Rahasia apa? Murka siapa?” aku merasa penasaran.
            “Rahasia liaq itulah, itulah,” Tuwala berkata. “Dulu, bahkan orang harus mengorbankan ayam putih dan anjing hitam kalau liaq itu murka.”
            “Mengapa murka?” aku bertanya seperti orang tolol.
            “Karena orang-orang mengambil ikan di danau itu tanpa adat aturan,” Tuwala makin menjelaskan. “Mereka tak menggunakan peralatan nelayan yang lumrah. Mereka gunakan potas dan setrum!”
            “Potas dan setrum? Bukankah sampai anak-anak ikan ikut mati?”
            “Bukan itu saja. Bahkan tukan putas dan tukang setrumnya ikut mati!”
            “Itu namanya kuwalat!” aku seperti menyumpahi.
            “Tapi sebenarnya tukang potas dan tukang setrum kuwalat pada liaq yang menghuni danau itu. Karena mereka tidak memberi sesaji, liaqnya marah. Akibatnya sangat fatal, tukang potas dan tukang setrum itu benar-benar mampus!”
            Kalau saja aku masih usia masa kanakku, bulu kudukku akan segera berdiri. Tentu aku akan bayangkan bagaimana liaq mengambil nyawa seorang nelayan karena nelayan itu tak bersopan santun menangkap ikan dari danau. Mungkin liaq adalah makhluk aneh yang menyeramkan, berkepala sebelas dengan gigi yang runcing tajam memanjang serta rambut terurai awut-awutan. Kuku-kukunya begitu panjang dan badannyanyang kotor tasmpak mengkilat di bawah cahaya matahari. Bau busuknya akan menyebar keseluruh permukaan danau, sehingga menimbulkan rasa mual dan geronjangan akan muntah. Tapi saat Tuwala berbicara aqku sudah sarjana dan aku justru akan membuka usaha di bidang keramba di danau itu.
            “Dulu ada warga dari kampong lain suka meracuni ikan di malam hari setelah ruba dianggap kurang mampan, “Tuwala masih melaporkan pengetahuannya mengenai aksi masyarakat penangkap ikan.
            “Makin hari pendapatan mereka berkurang, sehingga mereka gunakan setrum!”
            “Tapi jika aku sudah peliharakan ikan, aku minta petinggi umumkan kepada warga agar janagan lagi menuba, meracun, menyetrum,” aku memandang wajah Tuwala. “Biar ikan sungai dan danau dapat berkembang menjadib besar, dan ikan keramba aman juga, tak beracun oleh tuba dan obat mematikan.”
            “Tapi kalu menanam kerambah di Danau Liaq, kau tak merasa khawatir akan gangguan makhluk halus liaq yang bisa saja nanti minta sesaji,” Tuawala masih dengan argumentasinya. “Kuingat Dakouwe yang hanya mau mengambil ikan dari danau itu tapi tidak mau memberi sesaji, akhirnya kejeblos ke dalam lumpur muara danau dan tenggelam di arus Sungai Nyuwatan. Hingga kini mayatnya tak diketemukan!”
            “Kudengar Dakouwe suka mengganggu istri Sengkereaqduaq. Apa tak mungkin lelaki itu dibencana karena perselingkuhannya?”
            “Tapi mayatnya tak diketemukan orang. Kata orang mayat itu disembunyikan oleh liaq di dasar danau.”
            “Disembunyikan di dasar danau? Dasar yang mana? Bukankah danau tak terlalu dalam, hanya dua tiga meter saja dalamnya? Kalau diletakkan di dasar danau, tentu mayatnya akan mengapung kalau sudah membusuk. Lagi pula, untuk apa liaq sembunyikan mayat orang mati?”
            “Tapi itu perbuatan liaq bukan model tata cara manusia,”Tuwala masih dengan argumentasinya. Kalau mayat tak dibiarkan mengapung, ya tak kan mengapung. Bukankah liaq adalah makhluk halus yang dapat membutuhkan kematian sebagai tumbal bagi kedegilan manusia dalam mengelola lingkungan hidup!”
            Tuwala memang teman akrabku semasa di SD. Oleh karena ayahnya meninggal dunia, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi karena tak ada yang menyandang dana. Ia akhirnya menikah dan membuka lading secara tradisi. Bersama kelinceking, Sepotn dan Lelutukng, ia kuajak bersama membangun keramba di danau liaq. Dengan berbagai informasi danargumennya yang menyangkut kehidupan tradisional kampong, aku merasa aku mendapat bahan-bahan berguna untuki menata lingkungan di masa depan. Tanpa ilmu pengetahuan masyarakat akan tetap dibutakan oleh mitos-mitos kuno yang menghambat.
            Namun di pihak lain, aku juga suka dengan isyarat-isyarat dan batasan-batasan yang dipegang adat dan tradisi. Bahkan mitos Danau Liaq yang dikatakan bermula dari pusaran bulus membuat aku makin berusaha menyelami dan memahami makna apa yang terkandung dibalik dongeng-dongeng kuno itu. Bukankah cerita-cerita lama lebih banyak berupa tamsil dengan maksud-maksud tertentu di baliknya?
            Tak terasa jika keramba kami telah dihuni ikan-ikan jelawat, baung, betutu yang hamper siap panen. Tiga jenis ikan itu sengaja aku pilih karena memiliki ekonomi yang tinggi, sebab ikan-ikan itu digemari masyarakat lokal. Dalam jangka panjang aku berencana akan menjual ikan-ikan itu ke Jawa, bahkan ikan betutu disebut juga ikan bakut, sangat digemari orang Cina, Korea dan Jepang. Kuharap suatu ketika aku akan bangga mengangkut ikan-ikan itu dari Bandara Sepinggan di Balikpapan dalam dus-dus ukuran internasional untuk aku ekspor ke mancanegara.
            Bibit-bibit unggul itu ketiga jenis ikan itu aku beli di Banjarmasin, dan dengan penyuluh yang kudatangkan dari Dinas Pertanian Kabupaten, pemeliharaan ikan-ikan itu benar-benar sesuai dengan tata cara yang seharusnya ikan-ikan itu cepat sekali menjadi besar dan gemuk. Kerja keras selama beberapa bulan terakhir ini kurasa akan segera akan menghasilkan buah. Bahkan kuduga, kredit bank akan mengucur lebih besar, jika panen perdana yang dilakukan oleh bupati, telah dilangsungkan. Pihak bank akan melihat sendiri bahwa uang yang mereka pinjamkan tidak terbuang di lapak judi tongkok dan tak juga dihabiskan dengan wanita ayu di kafe-kafe hiburan,  tetapi benar-benar ditanam di dalam usaha produktif berupa ikan dalam keramba.
            Acara persiapan penyambutan bupati untuk panen perdana telah rampung. Petinggi dan kepala adat ikut ambil bagian dalam acara tersebut, karena baru kali inilah kampong kami akan dikunjungi bupati. Selama puluhan tahun dan berapa bupati dan gubernur telah ganti-berganti, baru kali inilah masyarakat kampung merasa mendapat kehormatan karena kampong akan dikunjungi pejabat tinggi Negara. Selama ini camat-camat pun jarang datang, bahakan ada camat sampai tugasnya berakhir di kecamatan, tidak sempat mengunjungi kampong kami. Sehinggga ada orang yang menggerutu dengan pahit, bahkan kampong kami selalu dianaktirikan dan menjadi kampung sial, karena kutukan liaq, membuat kampung tak pernah maju. “Tapi mengapa harus menggunkana lokasi di situ,” Tuwala seperti ternganga melihat kawasan nantinya akan digunakan untuk tempat upacara.
            “Tempat itu tidak baik digunakan untuk umum karena ada penunggunya.”
            Tuwala yang sedang bertugas menyiapkan pemasaran di Banjarmasin tak ikut serta dalam pembuatan tanggung dan teratak upacara. Ia baru saja tiba, setelah semuanya selesai.
            “Biar penunggu itu menjaga kita,” Pererawen seperti berlelucon.” Biar ucapara berjalan lancar.”
            “Tapi di situ ada lubang misterius,      Wen,” Tuwala menguatkan argumentasinya.
            “Nenekku pernah kidasih mimpi delapan kali di siang hari oleh lelaki tua berambut putih yang mengatakan bahwa di tempat itu ada gua harta.”
            “Itu lebih baik,” Pererawen tak mau kalah. “mudah-mudahan kita semua ini diberi tua akan harta karun yang berlimpah ruah. Sebagai penggagas pembangunan keramba dan yang bertanggungjawab akan usaha yang aku jalankan, aku merasa semuanya sudah siap. Jika terjadi penggunaan kawasan berpenunggu, kuharap itu hanya dongeng kuno yang tak ada buktinya. Oleh karena itu, aku minta kepada Tuwala dan Parerawan agar persoalan lokasi jangan diperumit. Lebih baik bersiap-siap menunggu kedatangan rombongan bupati esok hari.”
            Setelah memeriksa keramba dan segala persiapan penyambutan, aku berusaha memejamkan mata. Panen perdana kuharapkan akan dilanjutkan dengan panen kedua dan seterusnya, dan masyarakat kampong akan menjadi sejahtera karena usaha keramba. Ekonomi rakyat meningkat, tak lagi terlilit hutang ijonan disebabkan harga karet dan rotan selalu tak menentu karena diakali dan dikadali para tengkulak!
            Saat aku bangun udara pagi terasa sangat dingin karena gerimis masih merintis. Aku menjadi jengah, karena di ruang tengah telah duduk sejumlah warga dan mereka berbicara dengan nada yang tinggi.
            “Panggung dan teratak terjeblos ke dalam tanah,” suara Tuwala melapor padaku. “ikan-ikan dalam keramba pada mati. Menurut Petinggi rombongan bupati sebentar lagi akan tiba di sini!”
            Kukucek mataku di depan panggung upacara dan teratak yang tenggelam ke dalam lubang tanah yang menggeronggang ke dalam karena guyuran hujan membuat tanah menjadi lembek dan seluruh lapisan atas tanah terkikis lalu membentuk lubang yang dalam. Sementara hampir-hampir aku tak percaya, saat kukucek mataku di depan keramba. Seluruh ikan mengapung mati!
            Saat rombongan bupati tiba, kutunjuk bangkai-bangkai ikal jelawat, ikan baung dan ikan betutu yang mengapung mati. Air danau yang tadinya bening bersih telah berubah menjadi iar susu. Beberapa anak sungai yang mengalir ke danau itu telah membawa limba merkuri dan limbah tanah yang lingkungannya hancur karena penebangan hutan yang dilakukan secara merajalela oleh pengusaha HPH. Perubahan air secara mendadak dan racun-racun tanah dari bekas tebangan HPH telah menciptakan neraka bagi ikan-ikan keramba.
            Danau Liaq, bulus terkutuk, keramba, limbah HPH, dan di sebelahku bupati yang kulihat masih melongo di depan keramba danau dengan jutaan ikan mati.
            Gerimis seperti melilitkan kemurungan di awan yang menggantung hitam.
            Matahari mungkin masih lama tak tampak!
Analisis :
            Dalam kutipan cerpen  di atas menceritakan tentang Danau Liaq, yang bermakna danau ciptaan bulus karena kutukan dewa pemarah. Danau liaq yang berasal dari pusaran seekor bulus yang harus bertelur sejuta.  Ia dikutuk karena memakan durian kesayangan raja. Oleh karena kutukan itu, bulus itu membuat pusaran yang luas di pasir untuk tempatnya bertelur. Pusaran itu menjadi lebar dan dalam dan bekas pusaran itu berubah menjadi danau. Seorang anak di kampng itu sangat suka memancing di danau liaq tersebut. Terakhir dia jera karena tiba-tiba saja di dalam bubu melingkar ular bentung yang berbisa. Danau liaq tersebut rupanya memiliki rahasia yang seram. Dapat kita lihat dari kutipan-kutipan di dalam novel tersebut :
“Tapi di kiri kanan danau itu memiliki rahasia yang seram,” kawanku Tuwala berkata dengan nada khawatir. ”harus berhati-hati menghindari murkah.”
            “Rahasia apa? Murka siapa?” aku merasa penasaran.
            “Rahasia liaq itulah, itulah,” Tuwala berkata. “Dulu, bahkan orang harus mengorbankan ayam putih dan anjing hitam kalau liaq itu murka.”
            “Mengapa murka?” aku bertanya seperti orang tolol.
            “Karena orang-orang mengambil ikan di danau itu tanpa adat aturan,” Tuwala makin menjelaskan. “Mereka tak menggunakan peralatan nelayan yang lumrah. Mereka gunakan potas dan setrum!”
            “Potas dan setrum? Bukankah sampai anak-anak ikan ikut mati?”
            “Bukan itu saja. Bahkan tukang putas dan tukang setrumnya ikut mati!”
            “Itu namanya kuwalat!” aku seperti menyumpahi.
            “Tapi sebenarnya tukang potas dan tukang setrum kuwalat pada liaq yang menghuni danau itu. Karena mereka tidak memberi sesaji, liaqnya marah. Akibatnya sangat fatal, tukang potas dan tukang setrum itu benar-benar mampus!”
2.3.3 Novel Kontemporer
MERAHNYA MERAH
Oleh: Iwan Simatupang
Satu
SEBELUM REVOLUSI.dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepada pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.
            Kini, revolusi telah selesai. Telah lama, kata sebagian orang. Ah! Barangkali juga selesai-selesai. Dia tahu. Rumah sakit jiwa telah pula lama ditinggalkannya.
            Dia bukan rahib. Gereja tak pernah dimasukinya lagi. Terdaftar di departemen urusan veteran, dan tak tega pula. Dia tahu, apa sebenarnya dia kini. Dia hanya tahu, dimana dia. Yaitu, di sepanjang jalan raya. Menurut istilah resmi departemen angkatan kepolisian dan departemen urusan sosial, dia orang gelandangan.
            Matahari menancap tinggi di langit. Udara gerah. Di jauhan terdengar kereta api masuk stasiun. Kakinya sudah tak kuat membawanya lari ke sana. Ke pintu keluar stasiun menghadang entah ada kenalannya di antara penumpang yang baru datang itu. Kalau ada, pastilah kenalannya itu memberinya uang sekedar untuk makan seminggu, kurang lebih.
            Menurut anggapannya sendiri,dia tak pernah minta. Apalagi minta-minta. Rasa harga dirinya masih cukup tebal. Bila tak ada kenalannya antara penumpang-penumpang itu-bekas anak buahnya, atau atasannya, ketika revolusi bersenjatadulu-dia tahan tak makan berminggu-minggu lamanya. Bintang-bintang tanda pangkat perwiranya yang masih tetap simpatinya sebagai jimat, terbungkus dan terlilit meliputi lehernya-melarangnya mengikut kebiasaan rekan-rekannya gelandang lainnya untuk menengadahkan kaleng atau batok kosong di warung-warung mengharapkan sia-sia makanan tamu-tamu.
            Dan telah menemukan penangkal mujarab untuk memerangi pusing kepalanya bila perut kosong berlarut-larut. Yaitu, berjalan sepanjang malam, menghitung-hitung bintang di langit. Bila malam hujan, dia tampung air hujan dengan kedua telapak tangannya, penuh-penuh. Kemudian, diminumnya. Perutnya serasa segar kembali. Demikian pula seluruh tubuhnya. Diapun lalu dapat tidur pulas.
            Siang hari dia belum merasa pusing karena perut kosong. Keriuhan lalu lintas dan gambaran manusia ramai sekelilingnya memenuhi perutnya dengan uap kebudayaan kuta, uap peradaban manusia modern, yang membuatnya sanggup untuk menanggungkan rasa lapar dan sakit berlarut-larut.
            Tapi kini, dia tak kuat jalan. Borok di pergelangan kakinya makin lebara saja. Makin nyeri. Macam-macam sudah obat yang dianjurkan rekan-rekan gelandangan lainnya. Dicobanya semua. Namun borok itu tambah luas saja. Tambah basah. Nanahnya meleleh ke mana-mana. Jaringan-jaringan daging yang masih utuh sekitarnya, mulai pula ikut-ikutan merah. Kemudian kuning, putih…menggenang nanah!
            Dia sendiri bukannya tak tahu asal usul borok itu, dan bagaimana cara pengobatannya yang semestinya. Ketika dia masih di seminari dulu untuk dididik jadi rahib katolik, dia juga diajari ilmu kesehatan sekedarnya. Dia tahu betul, tiap luka yang bagaimanapun kecilnya pada tubuh seorang yang tak terurus dan terus menerus kekurangannya vitamin, seperti dia itu, bisa jadi parah. Bahkan, tak sembuh-sembuh.
            Boroknya itu dulu hanya gores kecil saja dari dahan belukar, ketika ia mengantarkan Fifi ke perkampungan gubuk-gubuk kecil yang sembunyi di balik belukar-belukar di tengah kota itu. Perkembangan gubuk-gubuk itu adalah perkampungan kaum gelandangan. Sebenarnya janggal juga menyebutnya gubuk-gubuk. Untuk masuk ke dalamnya, kita mesti merangkak. Di dalamnya kita hanya bisa duduk atau terlentang. Ruangnya rata-rata 1 x ½ meter saja, cukup hanya untuk seorang manusia duduk atau manusia terlentang. Sebelah luar, tiap gubuk dipagari oleh sederet batu-batu atau potongan-potongan kayu kecil. Ruang antara pagar itu-itulah tempat untuk semua kesibukan lainnya dari si penghuni, di luar tidur. Di situ didapati ragam barang dan benda: cermin retak, botol-botol kecil yang berisi pupur, gincu, minyak wangi yang dicampur air supaya menjadi lebih banyak, dan lain-lain.
            Gubuk-gubuk kecil ini memberikan gambaran dari suatu film kartun kanak-kanak. Kontrasnya dengan gambaran para penghuninya yang bukan kanak-kanak lagi itu, memberikan pemandangan yanglebih khas lagi. Yakni, pemandangan dari semacam perkuburan di dunia surealis, mayat-mayatnya berkualaran dan berkeliaran, semuanya menantang langit terang. Kami ingin hidup 1000 tahun lagi….!
            Fifi, seorang gadis cilik. Gadis? Usianya 14 tahun. Tapi, dia sendiri serasa punya usia lebih ½ abad. Dia dulu masa ini sudah entah berapa tahun pula berselang-tinggal sentosa bertsama orang tuanya di kampungnya,di kaki sebuah gunung. Pada satu subuh, gerombolan menyerbu kampong itu. Leher ayahnya mereka gorok. Ibunya, kakak-kakaknya dan dia sendiri, nereka perkosa beramai-ramai. Esoknya, kampong itu pupus dari permukaan bumi. Dia bersama tetangga-tetangganya  mengungsi ke kota. Karena dia tak punya apa-apa pun famili tidak-dia terpaksa cari nafkahnya dengan satu-satunya barang yang masih punya harga bagi orang lain. Yakni, kewanitaannya. Inipun tak lama dapat ia eksploatasi. Satu malam, ia kena razia di kota. Lewat seminggu, ia dilepas lagi.
            Ayo! Mengapa lagi di sini. Lekas-lekas pulang ke kekampungmu ke orangtuamu! Bentuk brigadier polisi susila, yang malam sebelumnya sudah sempat mencicipi dia.
            Saya tak punya kampung, tak punya orang tua.
            Brigadir itu pura-pura membelalakkan mata, kemudian pura-pura menggelengkan kepalanya, kemudian pergi dengan rasa masa bodoh dan mual yang sebesar-besarnya.
            Lepas tengah hari, dia meninggalkan kantor polisi itu sesudah diberi makan ompreng terlebih dahulu.
            Saya ke mana? Tanyanya
            Kemana saja. Tapi ingat, jangan berbuat seperti itu lagi. Mengerti?
            Dia menganguk, tak mengerti. Oleh sebab dia tak kenal kota itu, sudah dirinya diantar tukang becak yang kebetulan lewat ke alun-alun, tempatnya semula. Ongkosnya disuruh tagihnya nanti malam saja.
            Setelah seminggu dia di alun-alun itu, dia diajak tukang becak itu ikut mencoba nasib ke ibukota. Di sana lebih banyak kerja, katanya. Juga bagi wanita-wanita seperti Fifi. Dia menganguk lagi, karena kembali dia tak mengerti betul. Tapi, dia ikut, persis seminggu di sana, dia ditinggal becak, yang dalam pada itu setelah berhasil jadi gacoan tetap seorang cabo montok, yang punya gubuk sendiri pula lagi.
            Selagi dia dinas sendirian di perempatan jalan dekat lapangan besar itu, dia ditemui laki-laki tokoh utama cerita kita ini. Tokoh kita tertegun, lalu duduk, menunggu Fifi berhenti menangis.
            Selesai?
            -Selesai apa?
            -Menangis.
            Fifi tercengang. Marahnya pun pura-pura tak jadi.
            -Oh! Saya tak menangis.
            -Baiknya jangan kita persoalkan itu lagi.
            Kata-kata tokoh kita tegas seperti perwir di medan perang yang harus segera ambil putusan.
            -Adik masih baru di sini saya lihat, dan tak punya tempat memangkal.
            -Tempat apa?
            -Pangkalan. Maksudnya, tempat tinggal menetap.
            -Apa kakak punya?
            -Yang sedang kita soalkan sekarang ini adalah adik, bukan? Mari saya tolongkan. Itupun, kalau adik sendiri mau.
            Fifi dibawanya keperkampungan gubuk-gubuk kecil di balik belukar dan alang-alang di tengah lapangan itu. Diperkenalkannya Fifi kepada penghuni-penghuni lainnya di situ. Juga kepada Maria.
            -Hm, Gacoan baru? Sengat Meria.                                                                
            Dia ini seorang wanita bertubuh besar, montok, hitam. Rambutnya kriting kecil-kecil, seperti kriting Negro. Gigi masnya 4,2 di rahang atas, 2 di rahang bawah.
            -Maria! Teriak tokoh kita. Dia ini baru saja kutemukan. Dia orang asing sama sekali di sini. Tak punya apa-apa, tak punya siapa-siapa. Tolonglah dia.
            -Tolong dalam hal apa? Bentak Maria, terus maju ke Fifi, ingin menariksirnya! Lebih bdekat.
            -Menompangkan dia tidur di gubukmu ini. Gubukmu terbesar di sini, bisa masuk 2 orang.
            -Menompang? Kau sendiri mengalami saban kali kau tidur bersama aku-cih! Kau sendiri tahu, gubukku tak besar.
            Mendengarkan ini, Fifi dapat menahan tawanya. Tanpa disadarinya, tangan kokoh kita tercubitnya dalam tawanya ini. Melihat cubitan ini, Maria jadi galak, serasa ia ingin menjambak rambut tokoh kita. Dibantingnya kakinya ke tanah, kemudian dia meludah dan lari masuk merangkak ke dalam gubuknya.
            -Tunggu sebentar di sini, dik! Bisik tokoh kita pada Fifi. Mulut Maria memang rewel. Tapi hatinya baik. Aku percaya, adik bakal bisa menumpang tidur dengan dia. Setidaknya mala mini.
            Segera dia masuk ke dalam gubuk Maria.
            -Pergi! Pergi! Aku tak ingin lihat mukamu.
            -Maria! Maria! Bujuk tokoh kita, sambil merangkak masuk.
            -Cih! Laki-laki mata keranjang. Ketemu gacoan baru, hah! Fifi yang makin tertarik pada percakapan riuh dalam gubuk itu, melangkah dekat.
            -Mereka selaku begitu! Suara seorang wanita di sampingnya.
            Fifi terperanjat juga sedikit. Tapi segera dia dapat menyusuri wajah wanita di remang tengah malam itu: wanita itu kurang lebih usia dia juga, dengan nasib yang kurang lebih sama. Hatinya legah. Wanita itu tertawa ramah. Dia adalah penghuniperkampungan itu juga. Dia mengunyah-ngunyah kwaci. Sebagian kwaci diberinya Fifi.
            -Saya icih. Sebantar lagi, mereka akan baikan kembali, dan akan tidur dengan Maria nanti.
            -Dia galak! Tingkah Fifi.
            -Memang. Tapi hanya lumayan saja. Dialah ibu kami di sini, laki-laki maupun perempuan. Kalau ada apa-apa atau ada kesusahan kami, kamib selalu datang padanya. Dia selalu sedia menolong. Kata-katanya selalu dapat mengobati susah kami.
            -Dia dari man?
            -Entah. Menurut omongan orang,dia berasal dari bagian timur negeri kita. Entah Maluku, entah Timor, entah Flores.
            -Namanya memang Maria?
            -Ya. Agamanya katolik, setidaknya dulu. Dulu dia mau jadi guru rawat. Tapi, oleh karena dia tak bisa melihat darah, cita-citanya gagal. Kemudian dia menjadi seorang pembantu rumah tangga pada pastoran di kota kecil tak jauh dari kampungnya. Pada suatu petang, dia diterkam oleh seorang laki-laki dari belakangnya, diseret ke dalam semak-semak, lalu diperkosa-tanpa dapat melihat siapa laki-laki itu.  Seminggu sesudah ituSeminggu sesudah ituSeminggu sesudah itu, seorang pastor di pastoran itu menggantung dirinya. Sebab-sebabnya tak diketahui. Maria begitu takutnya melihat pastor yang tergantung pada tali itu, hingga dia lari dari pastoran itu. Lalu dia ikut salah satu perahu yang biasa mengangkut rempah-rempah ke Jawa ini. Bayi yang lahir dari perkosaan itu- ini juga keajaiban, sebab umumnya tak lantas lahir anak dari perkosaan- ditinggalkannya di rumah sakit tempat ia bersalin, dan dia memulai pertualangannya, sampai dia terdampar kemari…
            Fifi diam, tanpa disadarinya bintik-bintik air panas mengalir dari sudut-sudut matanya. Dari dalam gunung Maria, tiba-tiba kedengaran suara Maria menangis tersedu-sedu, sedang tokoh kita setengah berbisik mencoba membujuknya.
            Tak lama kemudian, Fifi dan kawan-kawannya itu dikejutkan tawa kuat-kuat Maria, ditingkaj tawa tokoh kita yang tak kalah pula kuatnya. Tawa Maria makin genit. Pada satu saat, tawa genit Maria berhenti sama sekali. Dari dalam gubuk itu tak kedengaran suara apa-apa lagi. Hening, penuh rahasia.
            -Mengapa mereka sekarang? Tany Fifi, heran. Icih mencubit tangannya, ketawa genit.
            -Ngapai lagi…Hi-hi-hi! Apa kataku tadi, kau tidur bersama Maria malam ini.
            Fifi mengerti.
            -Tapi, sesudah mereka baikan begitu, apa bukan kakak itu sendiri nanti yang bakal pilih Maria sebagai kawan tidurnya?
            -Kalau kakak kita itu memang punya rencana untuk tidur bersama Maria malam ini. Masakan kita akan membawamu padanya? Hi-hi-hi….
            -Benar pula, piker Fifi.
            -Dan lagi kakak kita tak pernah suka bermalam di sini. Artinya menginap sampai pagi. Dia selalu buru-buru pergi lagi, tidur di tempat mangkalnya sendiri, entah dimana.
            -Tak seorang kami di sini tahu. Dialah satu-satunya dari seluruh kaum gelandangan di kota ini tak diketahui tempat mangkalnya. Tapi, tiba-tiba saja dia sudah tak kelihatan lagi.
            -Heh, apa? Tanya Fifi sedikit ketakutan.
            -Betul.saya sendiri tak percaya dia itu hantu yang tiba-tiba saja bisa menghilang. Dugaan kami adalah, dia itu akhirnya thu dia sedang dibuntuti, lalu lari tiba-tiba dan menghilang.
            Mereka berhenti bercakap. Dari gubuk, keluar tokoh kita, disusul Maria yang tampak sedikit malu-malu sambil membetulkan rambut dan roknya yang kusut.
            Pada tubuh tokoh kita melekat bau minyak wangi yang sengit sekali. Minyak wangi Maria!
            -Hm, wanginya, sindir Icih dan mencubit tangn Fifi.
            Maria tambah malu-malu lagi, tunduk.
            -Adik malam ini tidur bersama Maria. Bahkan sampai dengan ada kepastian lebih lanjut nanti mengenai tempat adik, adik selam itu boleh numpang pada Maria. Bukankah, begitu Maria?
            Maria mengangguk.
            -Beres, kalu begitu. Sekarang saya permisi pergi.
            -Kakak sendiri tidur di mana? Tanya Fifi.
            Di dasar hatinya yang sebenarnya baru berusia 14 tahun itu, dia merasa mulai mekarnya suatu perasaan yang sampai dengan saat ini sangat asing baginya. Rasa mesra, rasa kasih sayang, yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
            Dia menatap baik-baik seluruh perawakan laki-laki itu. Kelihatan mata yang sempat dapat ditangkapnya dari remang malam yang telah jauh berangkat tua itu, membuat kecambah dalam hatinya makin mengelopak. Ketika laki-laki itu menyentuh tangannya, maksudnya membawanya kepada Maria, agar Maria menuntunnya masuk ke dalam gubuknya, jantung Fifi berdebar keras sekali.
            -Tidurlah baik-baik. Kau jaga dia baik-baik, Maria.
            Maria tak menyahut. Erat-erat dipegangnya tangan tokoh kita, seolah tak ingin dilepaskannya untuk selamanya.
            -Jagalah dirimu juga baik-baik,hm? Kata Maria penuh sayang. Obat gosok yang kuberi tadi jangan lupa gosokan ke dadamu sebelum tidur. Mengerti? Dan besok, jangan lupa pergi ke dokter. Uang yang kuberi tadi adalah untuk dokter. Mengerti?
            Tokoh kita mengangguk. Setelah menjentik ringan pipiu Icih, dia pun pergi. Pelan-pelan disurukinya belukar keluar.
            Langit tak bening lagi. Kelompok-kelompok embun dari arah pantai, buru memburu menuju selatan. Malam menggelepar jalan lengang. Seekor anjing menyalaki tukang becak yang mengayuh becakny acuh tak acuh, pulang.
            Di dalam gubuk, lama sekali Maria tak bisa tidur. Fifi segera terlena. Tidurnya mendengkur. Tubuhnya letih. Otaknya baru saja dihimpit berat sekali oleh sekumpulan pengalaman dan kesan baru yang asing baginya. Dia, wanita yang sudah tua, sangat letih, pada usia 14 tahun.
            Menjelang dinihari, Fifi terkejut bangun. Dia mendengar Maria menangis tertahan-tahan. Lama sekali dia berbisik-bisik seorang dirinya. Bisik-bisik dari suatu doa yang asing bagi teling Fifi. Kemudian dia berkata agak keras.
            -Semoga tuhan selalu bersama dia!
            Maria tertidur kembali. Tarikan-tarikan nafasnya kini tenang.
            Lama Fifi menatap ke dalam kelam gubuk kecil itu. Dia ingin sekali tahu, siapa maksud Maria dengan dia tadi itu. Naluri kewanitaannya pelan-pelan mengambang, membuat dia gelisah. Dalam kelam gubuk kecil itu, dia lihat dirinya dihalau ke dalam satu sudut lancip dari suatu segitiga hitam. Adakah?
            Ah dia tak ingin percaya. Dan taruhlah dia dapat percaya dia bisa berbuat apa? Dia tahu, toh dia bakal kalah, menyerah, pergi. Biarlah dia kembali melompat ke daerah kedaulatannya yang mutlak, yang tak dapat diganggu gugat siapapun juga hingga kini. Yaitu, daerah khayalnya dari tiada pembatasan dan syarat apa-apa.
            Dia ingin lebih lama sedikit mencumbuh dirinya dengan keadaan baru, yang tadi untuk pertama kali dirasanya. Kemudian, lambat-lambat dia mengangkat dirinya ditengah-tengah seluruh persoalan bbarunya tadi ke tengah bumi yang baru, di tengah man dia kini ada. Yaitu, perkampungan gubuk-gubuk kecil dari manusia-manusia kere, makhluk-makhluk boyongan yang terus-menerus dikejar oleh perselisihan waktu melawan ruang dengan derita sebagai taruhannya. Keadaan yang serba derita, dari ukuran yang serba kecil, serba sedikit. Tapi juga, keadaan yang menggenggam satu jenis rasa yang memanaskan, yang membebaskan.
            Terlebih lagi, dia ingin memelihara terus kecambah dari perasaan yang baru untuk pertama kali inilah pernah datang menyergap dirinya. Menyergap tubuhnya yang baru berusia 14 tahun itu, yang sudah jadi pusing oleh sekian laki-laki demi berahi dan sejumput rupiah. Masikah lagi ada kesempatan dan kemungkinan baru bagi dia?
            Dia tak tahu. Mutiara-mutiara bening mencair di sudut-sudut matanya. Dia tengadahkan mukanya ke atas. Ke mana lagi kalau tak ke atas? Atas adalah arah segala derita. Tapi juga, arah dari segala harap dan doa.
            -Semoga Tuhan bersama dia! Isaknya. Dia akget. Belum pernah dia mengucapkan kata-kata itu. Tuhan?
            Tapi, jaringan-jaringan otaknya yang sebenarnya masih muda belia itu tak lagi mampu membendung kantuknya yang kini datang semakin gigih merebut seluruh tubuhnya.
            Ayam berkoko dijauhan. Sebentar lagi, fajar menyembul. Fifi telah tidur. Nafas-nafasnya pelan, teratur. Perkampungan gubuk-gubuk kecil itu nyenyak.

Keunggulan Novel
- Terinspirasi dari kisah nyata
-  Pewatakan tokoh mudah dimengerti dan di gambarkan jelas. Sebelum revolusi  dia calon rahib. Selama revolusi dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap, dan sesudah revolusi dia masuk rumah sakit jiwa.
- Ceritanya setelah dia keluar dari rumah sakit jiwa itu, dia menjadi seorang gelandangan yang tak punya apa-apa, dan kini dia tak sanggup jalan karena borok di pergelangan kakinya semakin melebar. Goroknya itu berasal dari goresan kecil dari bahan belukar.
- Setting cerita bertempat di perkampungan yang bernama Alun-alun, dan perkotaan.
- Kisah asmara yang disajikan penulis tergambar cinta segi tiga (Tokoh kita, Fifi, dan Maria)
- Tokoh Fifi adalah seorang gadis yang berusia 14 tahun. Dia adalah salah satu korban pemerkosaan. Setelah dia ditinggalkan oleh keluarganya (meninggal) dia tak punya apap-apa, dan dia rela menjual keperawanannya untuk keberlangsungan hidupnya. Sehingga dia pun pernah kena razia.
- Dalam kutipan novel tersebut terdapat kata-kata yang kurang sopan, kasar.
“ Ayo! Mengapa lagi di sini. Lekas-lekas pulang kekampungmu ke orangtuamu! Polisi Bentak brigadir polisi susila, yang malam sebelumnya sudah sempat mencicipinya.

Manfaat Novel
-Novel ini mengingatkan/menegaskan kepada pembaca, apapun yang terjadi janganlah sampai menjual harga diri, seperti yang dilakukan oleh Fifi di dalam cerita novel tersebut.


BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Sastrawan kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu. Sastrawan kontemporer ini sudah banyak menciptakan karya-karya sastranya. Baik itu berupa novel, puisi, maupun cerpen. Karya-karya sastranya itu ceritanya tentu saja bervariasi.
Dalam karya sastranya itu berbagai bentuk model atau jenis yang diterbitkannya, contoh pada puisi. Puisi yang ia terbitkan itu ada yang berupa hanya menggunakan simbol-simbol dengan menampilkan kata atau kalimat seruan yang sedikit, tapi ia tetap memiliki makna, seperti pada puisi yang berjudul Viva Pancasila karya Purba pada tahun 2001. Dalam puisi Viva Pancasila in sangat sulit diartikan dan dipahami karena puisi hanyan terdiri dari simbol-simbol. Sastrawan kontemporer melakukan perubahan dalam karya sastra khususnya puisi terlihat dalam puisi ini pembaca sangat sulit dimengerti.
 Begitu pula  puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul dandandid. Dandandid merupakan puisi yang berbentuk mantera. Didalam puisi ini bertolak dari pengalaman kanak-kanaknya dengan lagu malam anak serta dongeng ke dalam puisi-puisinya. Puisi ini berusaha melakukan pembaharuan dengan kata-kata yang digunakan dalam puisi ini terlihat bahwa penyair ingin  mengabungkan nilai mantera dengan puisi yang menceritakan lagu anak-anak.
Namun, sastrawan kontemporer tentunya dalam menulis karya sastra banyak bentuk dan modelnya yang mereka terbitkan. Ada yang bisa kita pahami langsung, bahkan ada juga yang sulit dipahami bagi setengah orang, seperti pada puisi Viva Pancasila. Tetapi tentunya para sastrawan menerbitkan karyanya tersebut ada maksudnya. Ada yang menggambarkan kesedihan yang mereka alami, dan ada juga yang berisikan kegembiraan yang mereka rasakan.
3.2  Saran
Berdasarkan materi yang penulis sampaikan di atas, penulis menyarankan kepada pembaca agar pembaca yang akan melakukan penelitian tentang sastrawan kontemporer ini memiliki referensi yang banyak dan memahaminya terlebih dahulu. Semoga makalah kami ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan si pembaca, dan semoga dapat menjadi inspirasi untuk pembaca yang akan melakukan penelitian tentang sastrawan kontemporer. Kita harus lebih banyak membaca dan memahami kalimat dalam karya-karya sastra tersebut. Karena memahami kalimat sangatlah penting untuk kita sebagai calon pendidik.
DAFTAR PUSTAKA

Purba, Antilan. 2010. “Sastra Indonesia Kontemporer”. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Shomary, Sudirman. 2010.”Sejarah Sastra Indonesia”. Pekanbaru.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama