BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1
Latar Belakang
Dewasa
ini, berbicara mengenai sastra kontemporer tidak terlepas dari karya-karya
sastrawan kontemporer. Sastrawan kontemporer memiliki peranan yang penting
dalam perkembangan sastra kontemporer di Indonesia mutakhir ini. Sastrawan
kontemporer muncul pada tahun 1970-an seiring dengan perkembangan sastra di
indonesia. Sastra yang sebelumnya terikat oleh aturan-aturan tertentu atau konvensional, sekarang berusaha lari
dari ikatan konvensional atau tidak terikat aturan-aturan tertentu. Sastrawan kontemporer
berusaha melakukan pembaharuan dalam bidang sastra dengan menciptakan karya sastra yang berbeda dari
karya sastra sebelumnya. Pembaharuan yang dilakukan oleh sastrawan kontemporer
merupakan akibat dari perkembangan sastra Indonesia yang berkembang sejalan
dengan perkembangan zaman. Purba
(2010: 7) memberi penjelaskan sebagai berikut: “Konsep sastra 70-an itu dapat
dikatakan sebagai protes terhadap kepincangan-kepincangan masyarakat pada awal
industrilisasi. Konsepsi ini dituangkan dalam karya-karya penuh dengan
eksperimen, baik bentuk maupun bahasanya”.
Purba (2010: 6)
menjelaskan sebagai berikut:
Sejak
1970-an sastra indonesia kontemporer mengalami perkembangan. Perkembangan.
Perkembangan itu dilatarbelakangi oleh adanya suatu pergeseran nilai kehidupan
secara menyeluruh. Hal ini ditandai oleh spirit dan semangat modern. Disamping
itu semangat kontemporer tidak lagi dijiwai oleh industri, tetapi oleh
persoalan kehidupan. Afrizal malna juga mengamati perkembangan sastra
kontemporer, ia berpendapat bahwa perkembangan sastra kontemporer tidak lagi
dilihat dari segi pertumbuhan karya saja, tetapi lebih dicerminkan oleh
kreaktornya dengan perubahan besar dan mendasar. Jika kita mengamati para
sastrawan pra 70-an kebawah, terlihat
betul untuk apa mereka menuliskan karyanya dan menjadi sastrawan. Ketika
menuliskan terlebih dahulu sebanyaknya, kemudian melakuka penggalian terhadap
dunia, belajar filsafat, dan meneliti dasar-dasarnya.
Sastrawan kontemporer menurut Depdiknas (2008:1230) adalah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa
dan fiksi, pandai-pandai, cerdik cendikia. Sastrawan menurut Depdiknas (2008:
729) adalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa ini.
Jadi sastrawan kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini,
semasa dan sewaktu.
Sastrawan
adalah ahli sastra. Ahli sastra tentunya mampu membuat karya-karya sastra yang
banyak (sastra kontemporer). Sudjiman dalam Purba (2010:2) sastra merupakan (literature,
inggris, literatur, Jerman, literature, Francis) adalah karya sastra lisan atau
tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti koorsinilan,
keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapan. Sedangkan menurut Rahmanto
dalam Purba (2010:3) mengungkapkan bahwa sastra tidak seperti halnya ilmu kimia
atau sejarah, tidaklah menyuguh ilmu pengetahuan dalam bentuk. Jadi, sastra
berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam dengan keseluruhannya.
Sastra-sastra kontemporer
muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang sudah beku dan tidak kreatif lagi. Sastra kontemporer
merambah pada seluruh jenis karya sastra, seperti novel, puisi, dan drama.
Tokoh-tokoh sastra ini pada zamannya termasuk sastrawan mudah pada tahun 70-an.
Munculnya sastra kontemporer merupakan reaksi terhadap sastra konvensional yang
dianggap telah mendominasi eksistensi karya sastra. Bahkan sastrawan mudah
merasa “sumpeg” dengan karya sastra yang telah ada karena masa terbelenggu daya
kreasinya.
Berdasarkan uraian tersebut,
maka wajarlah jika para sastrawan kontemporer mengeluarkan banyak karya-karya
sastranya. Salah satunya yaitu karya sastra dari Sutardji Calzoum Bachri. Sutardji Calzoum Bachri
merupakan panyair besar indonesia dan ia mengawali kepenyairannya sekitar tahun
1970-an.
Karya Sutardji
lebih menempatkan bentuk fisik dan tulisan dalam kedudukan yang terpenting pada makna. Dalam puisi karya-karyanya memang
mempunyai makna yang tersembunyi dan sulit dipahami. Salah satu karyanya adalah
“Hujan”. Walaupun bentuk tulisan yang tidak teratur karena bentuknya yang
zig-zag dan banyak pengulangan kata serta maknanya sulit dipahami, namun puisi
itu sangat mempunyai makna berarti bagi penyair atau semua makhluk hidup karena
hujan banyak membawa manfaat untuk kelangsungan hidup manusia, tumbuhan, maupun
hewan.
Sastrawan kontemporer ini mencakup semua karya sastra
yang ada. Keanekaragaman tema karya sastra yang mereka keluarkan semakin
variatif ketika pascareformasi. Sejak dibubarkannya Departemen Penerangan dan ‘dimudahkannya’
proses penerbitan sebuah karya, maka banjirlah sastra di Indonesia dengan
berbagai alirannya.
1.1.2
Masalah
Berdasarkan latar
berlakang di atas, maka dapat penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah
pengertian Sastrawan Kontemporer?
2. Siapa
sajakah Sastrawan Kontemporer di Indonesia ?
3. Sebutkan
karya-karya Sastrawan Kontemporer?
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar
belakang, makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui pengertian Sastrawan Kontemporer
2. Untuk
mengetahui nama-nama Sastrawan Kontemporer
3. Untuk
mengetahui
karya-karya Sastrawan Kontemporer
1.3 Manfaat
Penulisan
makalah ini mempunyai manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Secara
teoritis penelitian ini bermanfaat dalam menerapkan dan memperdalam intelegensi
pembaca mengenai sastrawan kontemporer dan supaya hasil penulis makalah ini
dapat menjadikan rujukan atau bahan referensi penulis selanjutnya untuk
tercipta sebuah karya tulis yang sempurna. Adapun manfaat praktis, semoga dengan hasil penulisan makalah ini pembaca
pada umumnya dan penulis pada khususnya
dapat mengimplementasikan karya-karya sastrawan kontemporer.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sastrawan
Kontemporer
Menurut Depdiknas (2008:1230) Sastrawan
adalah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa dan fiksi, pandai-pandai, cerdik
cendikia. Menurut Depdiknas (2008: 729) Kontemporer adalah pada waktu yang
sama, semasa, sewaktu, pada masa kini, dewasa ini. Jadi sastrawan kontemporer
adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu.
Sastrawan
kontemporer tidak hanya berhenti dalam produktivitas, tetapi lebih-lebih dalam
pencarian bentuk-bentuk pengucapan baru. Sastra kontemporer dalam karyanya
melahirkan eksperimen berupa penjungkirbalikan kata, penciptakan kata-kata
baru, penciptaan idiom-idiom baru dan sebagainya. Purba(2010:15) “Misalnya
Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada
eksistensi bunyi dan kekuatannya”. Pembaharuan yang dilakukan Sutardji
benar-benar memberi wajah baru bagi perjalanan dan perkembangan puisi
Indonesia.
Sastrawan
kontemporer melakukan suatu pergeseran nilai kehidupan secara menyeluruh. Hal
ini ditandai dalam karyanya banyak yang
mengambil ide atau gagasan dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan
manusia. Sastrawan kontremporer memiliki peranan dan fungsi yang penting dalam
perkembangan sastra di Indonesia muktahir ini. Keberadaan sastrawan kontemporer
memberi warna yang berbeda dalam perpuisian, cerpen dan novel di Indonesia.
Karya sastra kontemporer menjadi suatu awal pembaharuan cara berekspresi para
penyair dan pengarang kontemporer.
2.2
Nama-nama dan Identitas Sastrawan Kontemporer
1. I Dewa Putu Wijaya
Putu
Wijaya lahir pada tangggal 11 April
1944 di Tabanan (Bali) dan bekerja sebagai wartawan. Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40
naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik
drama. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah
mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri.Contoh
karya-karyanya yang banyak
diperbincangkan yaitu Telegram, Pabrik, Stasiun, Keok, Sobat, Tak cukup sedih, Ratu, Edan, Bila Malam Bertambah Malam, Aduh, Perang, Ms Novelet, dan nyali.
2. Iwan
Simatupang
Iwan
Simatupang lahir pada tanggal 18 Januari
1928 di Sibolga (Sumatra Utara). Beliau
menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, tidak satu pun yang tamat,
dengan bidang ilmu kedokteran
(Surabaya), belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Beliau pernah menjadi Guru, wartawan dan pengarang, yang
hasil karyanya kebanyakan merupakan karya sastra absurd, irrasional dan filosofis. Beliau telah mengarang semua genre sastra: Cerpen, Novel,
Puisi, Drama, Esei dan kritik sastra. Beliau wafat pada
tanggal 4 Agustus
1970 di Jakarta. Contoh
karyanya
yaitu
Merahnya
Merah
(1977),
Kering (1972), Ziarah (1976), Koong, kisah tentang seekorperkutut (1975),
Tunggu
Aku
dipojok Jalan
Itu, Jang Tak Terpadamkan (Cerpen 1965), Perang di Taman
(Drama 1966), Tegak Lurus dengan Langit (Antologi Cerpen 1982) dan Monolog Simpang Jalan.
3. Linus
Suryadi A.G
Linus Suryadi dalam
puisi-puisinya dimuat idiom jawa. Ia juga mampu menciptakan kuatrin yang pekat.
Di samping itu terdapat unsur budaya jawa, bahasa yang prosais, tidak
dikenalnya kata atau istilah tabu. Contoh karyanya yaitu Pengakuan pariyem (Novel 1988), Syair-syai dari Yogya
(Sajak 1978), Langit Kelabu (Sajak 1976), dan maria
dari magdala.
4. Korrie
Rayun Rampan
Lahir
pada tanggal 17 Agustus
1953 di Samarinda. Beliau merupakan seorang sarjana yang bekerja sebagai
wartawan. Beliau dalam
karya sastranya mengungkapkan tradisi Kalimantan. Contoh
karyanya
yaitu:
Upacara (Novel 1978), putih! putih/putih! (1975), Sawan (Puisi 1978), Api Awan Asap (Novel, 1976), lingkaran kabut, perawan dan Danau liaq(2002).
5. Remi Silado
Remi Silado banyak
menciptakan mbeling atau puisi lugu. Puisi
ini mengungkapkan hidup sosial kota-kota besar yang sering menampilkan
sikap yang skeptis, pesimis, anarkhis dan individualis. Puisi mbling adalah
puisi yang secara blak-blakan, lugu tanpa menghiraukan diksi tradisional. Contoh
karya yaitu:
Gali
Lobang
Gila
Lobang (Roman) dan Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan (Sajak).
6. Kuntowijoyo
Kuntowijaya
lahir pada tanggal 8 September 1943 di Yogyakarta. Beliau
merupakan Dr.
Sastra yang berprofesi sebagai dosen U niversitas Gajah Mada, pengarang
dan sejarawan. Contoh
karya yaitu: Suluk
awang-uwung (Sajak 1975), pasar (Novel, 1972), Kotbah di atas Bukit (1976),
Isaraf
(1976), Keta
api yang Berangkat
Pagi
hari (1966), Impian Amerika (1997), dan Daun Makrifat (Cerpen).
7. Budi
Darma
Budi
darma merupakan Dr.
Sastra yang pernah menjadi rektor IKIP di Surabaya. Beliau adalah sorang sastrawan kontemporer yang
melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Contoh karyanya yaitu: Rafilus, Olenka (Novel, 1983), Orang-orang Bloomington (Antologi cerpen 1980), dan Kritikus Adinan (Cerpen, 1974).
8. Sutardji
Calzoum Bachri
Sutardji
penyair kelahiran Rengat (Riau) tanggal 24 Juni 1941, dari suku bangsa Melayu. Pendidikan SD sampai SMA
ditamatkan di Tanjung Pinang (Kepri) dan selanjutnya melanjutkan ke jurusan
Administrasi Negara Fakultas Sosial Politik Universitas Pajajaran Bandung,
sampai tingkat II (Program
Doktoral/lama). Oleh karena tingginya minat dan intensitasnya kepada sastra,
khususnya puisi, ia berhenti kuliah. Beliau mengarang puisi, cerpen, esei dan
kritik sastra. Dia termasuk salah satu pembaca puisi terbaik indonesia sampai
saat ini dan telah membacakan puisinya di Rotterdam International Poetry
Reading (Belanda) tahun 1975. Pada tanggal 26 Januari 1976, Sutardji mengumumkan
dirinya secara lisan dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki menjadi
Presiden Penyair I ndonesia.
Karya sastra beliau berangkat dari tradisi mantera (Melayu). Contoh karyanya
yaitu: “O” (Sajak-sajak 1973), Amuk (1977), Hujan Menulis Ayam (2001), O Amuk Kapak
(1981), Kredo puisi, Jadi, Batu, Shanghai, Pot, Idul Fitri dan Winka Sihka.
9. Ibrahim
Sattah
Ibrahim
lahir di Tarempa pada
tahun 1945. Beliau menamatkan SMA dan bekerja menjadi Polisi Militer, Pendiri
Bumi Pustaka dan dramawan. Beliau selain mengambil efek puitik mantera, juga
mengambil permainan kanak-kanak, lagu-lagu dan cerita rakyat Melayu Riau sebagai sumber
pengucapan puitiknya. Mantera
itu bukan lagi mantera tradisional untuk menyihir dan orang sakit, melainkan
mantera modern yang menyarankan yang baru dengan cara tersendiri. Beliau
wafat tanggal 17 Januari
1987. Contoh karyanya yaitu: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), Hai Ti (1981), Duka dan Wawa.
10. Abdul Hadi Widi Muthari
Abdul Hadi lahir di Sumenep
tahun 1945. Beliau adalah seorang Dr. Sastra di Universitas Sains Malaysia (1999).
Beliau seorang lirikus dengan kedalaman sikap religiusnya yang intens selalu
tercermin pada banyaknya puisinya. Beliau berpendapat aku dan alam tidak lain
adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu diakrabi untuk melahirkan tindakan-tindakan
kreatif. Melihat dan merasakan suasana lirik yang kental dalam puisi Abdul
Hadi, W.M. Latunan pesona puisi Abdul Hadi W.M lain pula dengan getaran yang
bergelora pada puisi-puisi Sutardji. Kalau Sutardji tampak liar dan gelisah
dalam menggapai Tuhan, maka Abdul Hadi W.M, terasa memencarkan pesona langit. Contoh
karyanya yaitu: Riwayat (1967), Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang
seorang Pengunjung Pantai sanur (kumpulan sajak 1967-1971), Cermin ( sajak
1972-1975), Meditasi ( sajak 1971-1975) dan Tergantung Pada Angin ( kumpulan
sajak, 1975-1976).
11. Arifin C.Noer
Arifin adalah seorang
sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Arifin
merupakan sastrawan yang menciptakan karya sastra dari kehidupan manusia. Contoh
karya yaitu: Beberapa puisi dalam Horison (1966-1967), Sepasang Pengantin
(Drama, 1968), Kapai-kapai (Sandiwara, 1970) dan Kasir Kita (1972).
12. Danarto
Danarto lahir pada tanggal 27 Juni 1940 di Sragen. Dalam
karyanya beliau kembali ke akar tradisi atau kembali ke sumber ialah suasana purbawi ke dalam puisi-puisi
tanpa kehilangan kemodeman. Beliau berurusan dengan kata-kata dan bagaimana
menuangkan pengalaman batin dan rasa untuk menemukan darah sekaligus daging
dalam puisi. Beliau menggunakann tokoh-tokoh yang abiotik dan hewan dapat
berbicara dan perilaku seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: godlob (Cerpen,
1974), Adam Makrifat (Cerpen, 1982), Berhala (Cerpen, 1987), Argagendon, Rintrik
dan Kecubung Pengasihan.
13. Darmanto Jatman
Darmanto lahir di Jakarta pada tahun 1942. Beliau
terkenal dengan puisi-puisinya yang terdiri
dari campur baur berbagai macam bahasa yang dipadukan dengan kata seru
yang menghentak dan lembut menggambarkan kesemrawutan kebahasaan masyarakat
modern, ia lebih mbling dari Remi Silado. Ia lebih memiliki kesungguhan
mengugat, mencemooh, menyelesaikan sesuatu. Contoh karyanya yaitu: Bngsat
(1974), Sang Darmanto (Sajak).
14. Ediruslan Pe Amariza
Ediruslan lahir pada tanggal
17 Agustus 1947 di Bagan siapi-api. Beliau adalah seorang pengarang, Ketua
Dewan Kesenian Pekanbaru, dosen, wartawan dan anggota DPRD Riau. Beliau
meninggal bulan Mei 2000 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu: Vagaban, Pekanbaru
(Puisi, 1975), Surat-suratku kepada GN (Puisi 1983), Bukit Kawan (Antologi
puisi, 1985), Di Bawah Mentari (Novel, 1981), Jakarta, Dimanakah sri (1982),
Taman (Novel, 1983), Jembatan/ kekasih Sampai Jauh, Nakhoda (Novel), Ke Langit
(1993), Panggil Aku Sakai (Novel, 1987), Kayah, Umi Kalsum (Drama), Renungkan Markasan
(Cerpen, 1997) dan Dikalahkan Sang Sapurba (Novel, 1999).
15. Eko Budianta, C.A
Eko budianta merupakan
sastrawan yang melakukan suatu perubahan dalam karya sastranya. Beliau adalah
seorang yang selalu membedakan karya sastranya dengan sastrawan zaman
dahulu. Contoh karya yaitu: Ada (buku
puisi, 1976), Bel, 28 puisi (1977), Real (Puisi, 1977) dan Puisi ASEAN (1978).
16. Emha Ainun Najib
Emha Ainun Najib adalah
penyair religius yang sezaman dengan Sutardji. Ia sangat peka terhadap
permasalahan sosial. Ia berpendapat bahwa puisi akan mampu merangsang untuk
menguak berbagai jalan ke cakrawala. Ia bisa menerima yang kontemplatif tetapi
yang aktif. Hal itu dimasukkannya puisi boleh ke luar rumah tetapi tetap
membawa nurani bilik sunyinya, seperti juga puisi kamar yang sunyi dapat
menangkap alam dan udara di luar jendela. Bagi Emha, puisi itu semacam barang
mainan ia tidak begitu sering akan tetapi ia menjadi penting dan utama bila
mampu menawarkan suatu dunia dalam.
Dunia dalam ini adalah sekaligus dari luar yang tidak terbatas. Contoh karyanya yaitu: Sajak-sajak Sepanjang Jalan
(1978), 99 Untuk Tuhanku (1978), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990) dan
Nocturno.
17. Rachmad Djoko Pradopo
Rachmad merupakan pakar
bahasa Indonesia dan penyair puisi Indonesia. Rachmad membuat ciri-ciri puisi
kontemporer Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Matahari Pagi di Tanah Air (puisi,1967),
Sajak-sajak (1975) dan Matahari Di tengah Hutan (1994).
18. Sapardi Djoko Damono
Sapardi sebagai penyair
imajis karena susunan kata didalam puisinya mampu menghadirkan suasana yang
sarat dengan citra lihatan,M.S. Di dalam puisi Sapardi ini susunan katanya
mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia melukiskan yang terdiri dari
citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati namun menjadi hidup setelah
diberi nyawa oleh Sapardi. Jika kita pernah membaca fabel dengan binatang tiang
listrik, hujan, kabut bisa berbicara seperti manusia. Contoh karyanya yaitu: Akuarium
(Sajak, 1974), Mata Pisau (sajak, 1974), Dukamu A(sajak, 1975), Lirik Parsi
Klasik (1977), Arloji (Antologi puisi, 1999) dan Pus Puisi Cat Air untuk Rizki.
19. Umar kayam
Umar Kayam lahir tanggal 30
April 1932 di Ngawi. Beliau adalah seorang Dr.Sastra, dosen Universitas Gajah
Mada dan pengarang. Beliau wafat bulan Desember 2002 di Jakarta.
Contoh karyanya yaitu: Seribu Kunang-kunang di
manhattan (Cerpen 1972), Sri Su Marah dan Bawak (1975 ), Para Priyayi (Novel
1995), Jalan Menikung (2000), Istriku, Madame Schlitz dan Sang Raksasa.
20. Taufik Ikram Jamil
Taufik Ikram Jamil lahir
pada tanggal 19 September 1963 di Teluk Belitung. Beliau adalah seorang sarjana
FKIP UNRI, wartawan dan pengusaha. Beliau juga banyak membuat karya sastra
khususnya cerpen. Contoh karyanya yaitu: Tersebab Haku Melayu (puisi, 1995),
Sandiwara Hang Tuah (cerpen, 1996), Membaca Hang Jebat (1998), Hempasan
gelombang (1999).
21. Yudhistira ANM Massardi
Yudhistira ANM Massardi
lebih mbeling lagi dari Remi Silado dsan Darmanto Jatman. H.B. Jassin
berpendapat bahwa puisi-puisinya memberikan kesan yang dibuat oleh anak-anak
yang tak berdosa lagi. Contoh karyanya yaitu: Arjuna Mencari Cinta (1977), Ding
Dong (1978), Sajak Sikat Gigi (1978),
Biarin, Sajak Dolanan Anak-anak.
22. Darman Moenir
Darman Moenir lahir pada
tanggal 27 Juli 1952 di Batusangkar. Beliau seorang Sarjana Bahasa Inggris UBH
Padang. Contoh karyanya yaitu: Bako (1980), Kenapa Hari Panas Sekali
(puisi,1973), Gumam (1976), Kabut, Batu, Kampung Kecil (Cerita Bersambung di SK
Haluan).
23. Idrus Tintin
Idrus Tintin lahir pada
tanggal 10 Oktober 1932 di Rengat. Beliau tamatan SMA, Buruh, pengarang,
wartawan, guru, Ketua Dewan Kesenian Riau. Contoh karyanya yaitu: Luput (1986),
Burung Waktu (1990), Nyanyian di Lautan Tarian di tengah Hutan (1996).
24. Hasan Junus
Hasan Junus lahir pada tahun
1942 di P. Penyengat. Beliau tamatan ABA
Bandung, Guru, kolumnis dan pengarang. Contoh karyanya yaitu: Burung Tiung
Srigading (1978), Pelangi Pagi dan Sejumlah Cerita Lain (Cerpen, 1999).
25. Aspar
Aspar (Andi Sopyan Paturisi)
lahir pada tanggal 19 April 1943 di Bulukumba. Beliau meruapakan sastrawan
kontemporer yang bergelut dalam karya sastra novel. Contoh karyanya yaitu: Arus
(Novel, 1976), Pulau (Novel, 1976), Sajak-sajak dari Makassar.
26. F. Rahardi
F. Rahardi dengan kumpulan
puisinya menampilkan kenakalan-kenakalan dengan humor-humor yang tinggi dan
kadang-kadang konyol tetapi segar. Beliau merupakan sastrawan kontemporer yang
banyak membuat karya sastra marginal.
Beliau adalah sastrawan yang pertama memciptakan karya sastra marginal
di Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Silsilah Garong.
27. Afrizal Malna
Afrizal sejak 1983
puisi-puisinya diperhatikan karena imaji simboliknya yang memukau. Ia juga
memerhatikan pemilihan kata yang kadang-kadang menggebu-gebu. Puisi-puisi
beliau di dalam kumpulan Abad yang Berlari, kebanyakan tidak berdasarkan otak,
tetapi berdasarkan roh kata-kata yang liar dan berdarah. Contoh karyanya yaitu:
Gelora Burung
28. Y.B Mangunwijaya
Mangunwijaya banyak
mengarang novel-novel sejarah. Beliau telah menghayati akar-akar tradisi jawa.
Beliau berasal dari suku Jawa. Karya sastra yang ditulis beliau mengacu pada
naskah kuno atau melalui penelitian-penelitian dan mempunyai muatan sejarah
yang kuat. Contoh karyanya yaitu: Ikan-ikan Hiyu, Idohoma (1983), Roro Mendut
(1981), Genduk Duku (1986), Setadewa dan Lusi Lindri (1987).
29. N.H. Dini
N.H. Dini dalam karya
sastranya memiliki nilai yang universal dan tema yang dikemukakan adalah
problem manusia pada umumnya. Beliau adalah sastrawan yang berwawasan budaya
internasional yang mempelajari berbagai macam problem kehidupan sosial dalam
masyarakat dunia. Karya sastra beliau banyak yang berbentuk novel kontemporer
Indonesia. Contoh karyanya yaitu: Sri.
30. Pramudya Ananta Toer
Pramudya Ananta toer adalah seorang sastrawan yang dalam karya
sastranya mengangkat tema tentang kehidupan manusia sehari-hari. Beliau adalah
seorang novelis sastra kontemporer. Contoh karyanya yaitu: Bumi Manusia (1980).
31. Ngarto Februana
Ngarto Februana seorang
sastrawan kontemporer yang menggeluti karya sastra khususnya novel Indonesia
kontemporer. Beliau merupakan sastrawan yang karya sastra banyak berbentuk
novel. Contoh karyanya yaitu: Menolak untuk Pulang (2000).
32. Sides Sudyarto
Sides Sudyarto yaitu seorang
sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra,
kata-kata konvensional yang dijungkirbalikkan dan belum dikenal masyarakat
umum. Contoh karyanya yaitu: Gerisa.
33. Jeihan
Jeihan adalah seorang
sastrawan yang menggunakan simbol-simbol dengan menampilkan atau kalimat seruan
yang sedikit. Contoh karyanya yaitu: Viva Pancasila.
2.3
Karya-karya Sastrawan Kontemporer
2.3.1 Puisi Kontemporer
Kumpulan puisi Sutardji Calzoum Bachri
Mantera
Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi dalam rupa dupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi kau!
Kasihku
Analisis:
Puisi
mantera merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau kembali keakar
tradisi masyarakat Melayu Riau. Kata-kata dalam puisi mantera seperti kata-kata
yang diucapkan oleh dukun atau pawang. Puisi ini bernuansa mistik atau ghaib.
Shanghai
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Tak ya pong tak ya ping
Tak ya ping tak ya pong
Ku tak punya ping
Ku tak punya pong
Pinggir ping ku mau pong
Tak tak bilang ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarak Mu menancap nyaring
Analisis:
Puisi
Shanghai adalah puisi yang sangat memperhatikan unsur bunyi dan bewrbentuk
puisi mantera. Dalam puisi Shanghai
terdapat pembaharuan yaitu kata-kata yang biasanya terdapat di dalam mantera.
Sutardji melakukan inprovisasi dalam penciptaan puisi-puisinya. Puisi ini
ditujukan kepada Sang Pencipta alam semesta.
Batu
Batu mawar
Batu langit
Batu duka
Batu rindu
Batu jarum
Batu bisu
Kaukah itu
Teka
Teki
Yang
Tak menepati
janji?
Dalam seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu
perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin
ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh? Mengapa jam harus berdenyut sedang
darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa
peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai
tak sampai.
Kau tahu?
Batu risau
Batu pukau
Batu-Kau-ku
Batu sepi
Batu ngilu
Batu bisu
Kaukah itu
Teka
Teki
Yang
Tak menetapi
Janji?
Analisis:
Puisi batu
merupakan puisi yang mengandung nilai-nilai mantera atau puisi ynag kembali
kewarisan budaya mistik zaman dahulu. Puisi batu merupakan puisi yang
melambangkan seseorang yang memiliki sifat keras kepala yang dilambangkan dalam
puisi ini dengan kata batu.
Walau
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah
Dulu pernah kuminta Tuhan
Dalam diri
Sekarang tak
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak
Tujuhb puncak membilang-bilang
Nyeri hari mengucap-ucap
Di butir pasir kutulis rindu-rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah
Analisis:
Puisi walau terlihat nilai
religius yang tinggi. Puisi ini menjelaskan bahwa manusia tidak ada apa-apanya
dihadapan Allah Swt. Kemampuan manusia ada batasnya tetapi kemampuan Allah
tidak tertandingi oleh apapun di muka bumi. Oleh karena itu, manusia tidak
boleh bersifat sombong, angkuh, dan sebagainya, karena manusia hanya makhluk
ciptaan Allah Swt.
Tanah Airmata
Tanah airmata tumpah dukaku
Mata air airmata kami
Airmata tanah air kami
Di sinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanah-Mu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedung-Mu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemana pun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemana pun kalian terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemana pun berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami.
Analisis:
Puisi Tanah Airmata
merupakan puisi tentang kritik sosial. Puisi ini menjelaskan bahwa kesedihan
rakyat terhadap tanah air yang tercinta. Dalam puisi ini rakyat tidak bisa
berbuat apa-apa di tanah airnya sendiri, karena tanah air yang mereka tinggali
tidak seperti dulu lagi. Dahulu tanah air mereka subur, aman, dan damai,
sekarang sangat memprihatinkan.
Dandandid
Maka adalah pasir
Maka adalah batu
Adalah bayang
Dan ini dan itu Engkau dan aku: DANDANDID
Di sana pasir di sini pasir si sana batu di sini batu
Di sana bayang di sini baying di sana air di sini air
Maka adalah lengang
Terkapung dalam beragam makna di mana aku ada
Dan sebagaimana biasa aku pun bisa
Sesuatu
Yang tak kutahu
Indandid indekendekid
indekandekuman
Indaddid
Kaukah itu
Yang membasuh kaki yang membasuh bumi
Yang tak ada yang hilang tak hilang
Jauh tak jarak dekat tak sentuh
Di pasir di batu di baying di air di sunyi di situ di sana
Di sini
Kuraba halamu
Kusapa jua dirimu
Kanakkanah dan kupu-kupu
Yang di kakimu itu DANDANDID
Indekandekid indekandekudeman indandid
Karya : Ibrahim Sattah
Analisis:
Puisi Dandandid merupakan
puisi yang berbentuk matera. Didalam puisi ini bertolak dari pengalaman
kanak-kanaknya dengan lagu malam anak serta dogeng ke dalam puisi-puisinya.
Puisi ini berusaha melakukan pembaharuan dengan kata-kata yang digunakan dalam
puisi ini terlihat bahwa penyair ingin
mengabungkan nilai matera dengan puisi yang menceritakan lagu anak-anak.
Pus Puisi Cat Air Untuk Rizki
Angin
berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel
Telepon
itu,” aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!”
Kabel
telepon memperingatkan angin yang sedang memungut
Daun
itu dengan jari-jarinya gemas,” jangan berisik menganggu
Hujan!”
Hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan
tajam,
hardiknya,” lepaskan daun itu.
Karya: Sapardi Djoko Damono
Analisis:
Puisi ini sastrawan
melakukan eksperimen sederhana, melainkan di balik kesederhanaannya itu ada
sesuatu yang mencuit tiba-tiba bisa membedakan Sapardi dengan penyair lainnya.
Dalam puisi ini susunan katanya mempunyai daya kejut yang spesifik karena ia
melukiskan yang terdiri dari citra-citra lihatan yang banyak dari benda mati
namun menjadi hidup setelah diberi nyawa oleh sapardi. Dalam puisi ini terlihat
bahwa angin, kabel telepon, hujan kabut seolah berbicara seperti manusia.
Gerisa
Ya maraja jaramaya
Ya marani niramaya
Ya silapa palasiya
Ya mirado rodaminya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya
Karya: Sides Sudyarto
Analisis:
Puisi ini sastrawan
melakukan pembaharuan dengan memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional
yang dijungkirbalikan dan belum dikenal masyarakat umum. Kata-kata dalam puisi
ini sulit dipahami karena kata-katanya inkonvensional sehingga harus
benar-benar dipahami agar bisa mengerti maksud dalam puisi ini.
V!
!VIVA PANCASILA!
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
V!
! VIVA PANCASILA !
Karya: Jeihan
Analisis:
Puisi ini mengunakan simbol-simbol
dengan menampilkan atau kalimat seruan yang sedikit. Puisi ini sangat sulit
diartikan dan dipahami karena puisi hanyan terdiri dari simbol-simbol.
Sastrawan kontemporer melakukan perubahan dalam karya sastra khususnya puisi
terlihat dalam puisi ini pembaca sangat sulit dimengerti.
2.3.2 Cerpen Kontemporer
Cerpen Korrie Layun Rampan
Danau Liaq
Rumpun
bemban masih saja seperti dahulu, saat mula aku mengenal danau itu.
Rumpun-rumpun itu kembali mengingatkan kau akan masa kanakku yang hilang di
situ. Dahulu, kata ibu, menurut kisah yang didapatnya dari nenek, Danau Liaq
berasal dari pusaran seekor bulus yang harus bertelur sejuta. Ia dikutuk karena
memakan durian kesayangan raja. Karena ditanam arah ke tepi sungai, buah-buah
durian itu banyak yang jatuh dari pasir pantai, dan buah-buah berduri itu
menjadi mangsa bulus. Entah bagaimana caranya, bulus itu bisa membuka
durian-durian jenis durian buaya atau duarian monthong itu, dan memakannya
dengan lahap. Apakah ia menunggu sampai durian itu mereka, atau ia mengigit
bagian bawah durian, sehingga juring durian terbuka. Tak ada yang tahu secara
jelas, bagaimana sebenarnya bulus itu mampu mendapatkannya dan memakan daging
durian yang manis beralkohol itu.
Oleh
karena kutukan itu, bulus itu membuat pusaran yang luas di pasir untuk
tempatnya bertelur. Pusaran itu menjadi lebar dan dalam dan bekas pusaran bulus
itu berubah menjadi danau. Orang kampong di zaman itu menyebutkan Danau Liaq
yang bermakna danau ciptaan bulus karena kutukan dewa pemarah!
Aku
tak terlalu percaya dengan kisah itu. Namun aku suka memancing didanau itu,
terutama karena aku tertarik dengan bentuk danau yang bundar seperti nyiru.
Sekeliling danau merimbun rumpun bemban, dan disela-sela bemban itu berkeliaran
ikan gabus dan ikan lele yang besar lagi gemuk. Jika memancing dengan umpan
cacing atau belalang, sering aku mendapat ikan boyon, ikan lais dan baung yang
enak sekali rasanya. Jika ikan itu dipepes atau dibakar, rasa dagingnya gurih
manis. Sebelum aku pindah ke kota karena harus melanjutkan sekolah di sebuah
SMP di ibukota kecamatan, aku selalu datang ke danau itu pada waktu-waktu
tertentu dengan tujuan mancing atau mengangkat bubu dan pengirei yang diberi
umpan untuk jenis ikan pepuyuh dan kelabeuw. Terakhir aku jera karena tiba-tiba
saja di dalam bubu melingkar ular bentung yang berbisa, dan aku berteriak
memanggil ibu. Kalau aku sempat dipatuknya, entahlah nasibku, mungkin sudah
menjadi tanah seperti nenek moyang yang dikubur di dalam tempelaq yang berupa
kuburan gantung.
Danau
itu hampir saja terlupa dari ingatku jika aku tidak kembali setelah lulus dari
sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Peristiwa ular bentung seperti terpeta di depan mata membuat aku bertanya
kepada ibu, apakah masih ada orang yang mancing, memasang pukat atau bubu dan
menarik pancing bentang di danau itu. Dimasa kanakku, aku bersama kakakku
Tingang suka memasang jaring untuk menangkap ikan biawan dan ikan kapar yang
enak rasanya. Telur biawan jika dikonsumsi terlaku banyak, akan membuat anus
menjadi licin berminyak. Telur ikan itu akan menjadi musuh beteleq, karena
buahan itu akan bisa membuat anak-anak tidak bisa buang air besar. Jika makan
telur biawan, urusan WC menjadi lancar, meskipun makan beteleq seberangka
banyaknya.
Danau
Liaq adalah danau masa kanak. Belasan tahun aku tak pernah mernjenguknya karena
aku kuliah di Jakarta. Namun kini saat aku melihatnya kembali, hatiku jadi
terbuka untuk sebuah ide ikan keramba. Bukankah danau itu sangat bagus untuk
dijadikan lahan menanam berbagai jenis ikan yang nantinya akan dipanen untuk
dijual dipasar-pasar Damai, Berong Tongkok, Melat, Linggang Bigung, Lambing,
Jengan Danum,dan Samarinda.
“Tapi
di kiri kanan danau itu memiliki rahasia yang seram,” kawanku Tuwala berkata
dengan nada khawatir. ”harus berhati-hati menghindari murkah.”
“Rahasia
apa? Murka siapa?” aku merasa penasaran.
“Rahasia
liaq itulah, itulah,” Tuwala berkata. “Dulu, bahkan orang harus mengorbankan
ayam putih dan anjing hitam kalau liaq itu murka.”
“Mengapa
murka?” aku bertanya seperti orang tolol.
“Karena
orang-orang mengambil ikan di danau itu tanpa adat aturan,” Tuwala makin
menjelaskan. “Mereka tak menggunakan peralatan nelayan yang lumrah. Mereka
gunakan potas dan setrum!”
“Potas
dan setrum? Bukankah sampai anak-anak ikan ikut mati?”
“Bukan
itu saja. Bahkan tukan putas dan tukang setrumnya ikut mati!”
“Itu
namanya kuwalat!” aku seperti menyumpahi.
“Tapi
sebenarnya tukang potas dan tukang setrum kuwalat pada liaq yang menghuni danau
itu. Karena mereka tidak memberi sesaji, liaqnya marah. Akibatnya sangat fatal,
tukang potas dan tukang setrum itu benar-benar mampus!”
Kalau
saja aku masih usia masa kanakku, bulu kudukku akan segera berdiri. Tentu aku
akan bayangkan bagaimana liaq mengambil nyawa seorang nelayan karena nelayan
itu tak bersopan santun menangkap ikan dari danau. Mungkin liaq adalah makhluk
aneh yang menyeramkan, berkepala sebelas dengan gigi yang runcing tajam
memanjang serta rambut terurai awut-awutan. Kuku-kukunya begitu panjang dan
badannyanyang kotor tasmpak mengkilat di bawah cahaya matahari. Bau busuknya
akan menyebar keseluruh permukaan danau, sehingga menimbulkan rasa mual dan
geronjangan akan muntah. Tapi saat Tuwala berbicara aqku sudah sarjana dan aku
justru akan membuka usaha di bidang keramba di danau itu.
“Dulu
ada warga dari kampong lain suka meracuni ikan di malam hari setelah ruba
dianggap kurang mampan, “Tuwala masih melaporkan pengetahuannya mengenai aksi
masyarakat penangkap ikan.
“Makin
hari pendapatan mereka berkurang, sehingga mereka gunakan setrum!”
“Tapi
jika aku sudah peliharakan ikan, aku minta petinggi umumkan kepada warga agar
janagan lagi menuba, meracun, menyetrum,” aku memandang wajah Tuwala. “Biar
ikan sungai dan danau dapat berkembang menjadib besar, dan ikan keramba aman
juga, tak beracun oleh tuba dan obat mematikan.”
“Tapi
kalu menanam kerambah di Danau Liaq, kau tak merasa khawatir akan gangguan
makhluk halus liaq yang bisa saja nanti minta sesaji,” Tuawala masih dengan
argumentasinya. “Kuingat Dakouwe yang hanya mau mengambil ikan dari danau itu
tapi tidak mau memberi sesaji, akhirnya kejeblos ke dalam lumpur muara danau
dan tenggelam di arus Sungai Nyuwatan. Hingga kini mayatnya tak diketemukan!”
“Kudengar
Dakouwe suka mengganggu istri Sengkereaqduaq. Apa tak mungkin lelaki itu
dibencana karena perselingkuhannya?”
“Tapi
mayatnya tak diketemukan orang. Kata orang mayat itu disembunyikan oleh liaq di
dasar danau.”
“Disembunyikan
di dasar danau? Dasar yang mana? Bukankah danau tak terlalu dalam, hanya dua
tiga meter saja dalamnya? Kalau diletakkan di dasar danau, tentu mayatnya akan
mengapung kalau sudah membusuk. Lagi pula, untuk apa liaq sembunyikan mayat
orang mati?”
“Tapi
itu perbuatan liaq bukan model tata cara manusia,”Tuwala masih dengan
argumentasinya. Kalau mayat tak dibiarkan mengapung, ya tak kan mengapung.
Bukankah liaq adalah makhluk halus yang dapat membutuhkan kematian sebagai
tumbal bagi kedegilan manusia dalam mengelola lingkungan hidup!”
Tuwala
memang teman akrabku semasa di SD. Oleh karena ayahnya meninggal dunia, ia
tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi karena tak ada
yang menyandang dana. Ia akhirnya menikah dan membuka lading secara tradisi.
Bersama kelinceking, Sepotn dan Lelutukng, ia kuajak bersama membangun keramba
di danau liaq. Dengan berbagai informasi danargumennya yang menyangkut
kehidupan tradisional kampong, aku merasa aku mendapat bahan-bahan berguna
untuki menata lingkungan di masa depan. Tanpa ilmu pengetahuan masyarakat akan
tetap dibutakan oleh mitos-mitos kuno yang menghambat.
Namun
di pihak lain, aku juga suka dengan isyarat-isyarat dan batasan-batasan yang
dipegang adat dan tradisi. Bahkan mitos Danau Liaq yang dikatakan bermula dari
pusaran bulus membuat aku makin berusaha menyelami dan memahami makna apa yang
terkandung dibalik dongeng-dongeng kuno itu. Bukankah cerita-cerita lama lebih
banyak berupa tamsil dengan maksud-maksud tertentu di baliknya?
Tak
terasa jika keramba kami telah dihuni ikan-ikan jelawat, baung, betutu yang
hamper siap panen. Tiga jenis ikan itu sengaja aku pilih karena memiliki
ekonomi yang tinggi, sebab ikan-ikan itu digemari masyarakat lokal. Dalam
jangka panjang aku berencana akan menjual ikan-ikan itu ke Jawa, bahkan ikan
betutu disebut juga ikan bakut, sangat digemari orang Cina, Korea dan Jepang.
Kuharap suatu ketika aku akan bangga mengangkut ikan-ikan itu dari Bandara
Sepinggan di Balikpapan dalam dus-dus ukuran internasional untuk aku ekspor ke
mancanegara.
Bibit-bibit
unggul itu ketiga jenis ikan itu aku beli di Banjarmasin, dan dengan penyuluh
yang kudatangkan dari Dinas Pertanian Kabupaten, pemeliharaan ikan-ikan itu
benar-benar sesuai dengan tata cara yang seharusnya ikan-ikan itu cepat sekali
menjadi besar dan gemuk. Kerja keras selama beberapa bulan terakhir ini kurasa
akan segera akan menghasilkan buah. Bahkan kuduga, kredit bank akan mengucur
lebih besar, jika panen perdana yang dilakukan oleh bupati, telah dilangsungkan.
Pihak bank akan melihat sendiri bahwa uang yang mereka pinjamkan tidak terbuang
di lapak judi tongkok dan tak juga dihabiskan dengan wanita ayu di kafe-kafe
hiburan, tetapi benar-benar ditanam di
dalam usaha produktif berupa ikan dalam keramba.
Acara
persiapan penyambutan bupati untuk panen perdana telah rampung. Petinggi dan
kepala adat ikut ambil bagian dalam acara tersebut, karena baru kali inilah
kampong kami akan dikunjungi bupati. Selama puluhan tahun dan berapa bupati dan
gubernur telah ganti-berganti, baru kali inilah masyarakat kampung merasa
mendapat kehormatan karena kampong akan dikunjungi pejabat tinggi Negara.
Selama ini camat-camat pun jarang datang, bahakan ada camat sampai tugasnya
berakhir di kecamatan, tidak sempat mengunjungi kampong kami. Sehinggga ada
orang yang menggerutu dengan pahit, bahkan kampong kami selalu dianaktirikan
dan menjadi kampung sial, karena kutukan liaq, membuat kampung tak pernah maju.
“Tapi mengapa harus menggunkana lokasi di situ,” Tuwala seperti ternganga melihat
kawasan nantinya akan digunakan untuk tempat upacara.
“Tempat
itu tidak baik digunakan untuk umum karena ada penunggunya.”
Tuwala
yang sedang bertugas menyiapkan pemasaran di Banjarmasin tak ikut serta dalam
pembuatan tanggung dan teratak upacara. Ia baru saja tiba, setelah semuanya
selesai.
“Biar
penunggu itu menjaga kita,” Pererawen seperti berlelucon.” Biar ucapara
berjalan lancar.”
“Tapi
di situ ada lubang misterius, Wen,”
Tuwala menguatkan argumentasinya.
“Nenekku
pernah kidasih mimpi delapan kali di siang hari oleh lelaki tua berambut putih
yang mengatakan bahwa di tempat itu ada gua harta.”
“Itu
lebih baik,” Pererawen tak mau kalah. “mudah-mudahan kita semua ini diberi tua
akan harta karun yang berlimpah ruah. Sebagai penggagas pembangunan keramba dan
yang bertanggungjawab akan usaha yang aku jalankan, aku merasa semuanya sudah
siap. Jika terjadi penggunaan kawasan berpenunggu, kuharap itu hanya dongeng
kuno yang tak ada buktinya. Oleh karena itu, aku minta kepada Tuwala dan
Parerawan agar persoalan lokasi jangan diperumit. Lebih baik bersiap-siap
menunggu kedatangan rombongan bupati esok hari.”
Setelah
memeriksa keramba dan segala persiapan penyambutan, aku berusaha memejamkan
mata. Panen perdana kuharapkan akan dilanjutkan dengan panen kedua dan
seterusnya, dan masyarakat kampong akan menjadi sejahtera karena usaha keramba.
Ekonomi rakyat meningkat, tak lagi terlilit hutang ijonan disebabkan harga
karet dan rotan selalu tak menentu karena diakali dan dikadali para tengkulak!
Saat
aku bangun udara pagi terasa sangat dingin karena gerimis masih merintis. Aku
menjadi jengah, karena di ruang tengah telah duduk sejumlah warga dan mereka
berbicara dengan nada yang tinggi.
“Panggung
dan teratak terjeblos ke dalam tanah,” suara Tuwala melapor padaku. “ikan-ikan
dalam keramba pada mati. Menurut Petinggi rombongan bupati sebentar lagi akan
tiba di sini!”
Kukucek
mataku di depan panggung upacara dan teratak yang tenggelam ke dalam lubang
tanah yang menggeronggang ke dalam karena guyuran hujan membuat tanah menjadi
lembek dan seluruh lapisan atas tanah terkikis lalu membentuk lubang yang
dalam. Sementara hampir-hampir aku tak percaya, saat kukucek mataku di depan
keramba. Seluruh ikan mengapung mati!
Saat
rombongan bupati tiba, kutunjuk bangkai-bangkai ikal jelawat, ikan baung dan
ikan betutu yang mengapung mati. Air danau yang tadinya bening bersih telah
berubah menjadi iar susu. Beberapa anak sungai yang mengalir ke danau itu telah
membawa limba merkuri dan limbah tanah yang lingkungannya hancur karena
penebangan hutan yang dilakukan secara merajalela oleh pengusaha HPH. Perubahan
air secara mendadak dan racun-racun tanah dari bekas tebangan HPH telah
menciptakan neraka bagi ikan-ikan keramba.
Danau
Liaq, bulus terkutuk, keramba, limbah HPH, dan di sebelahku bupati yang kulihat
masih melongo di depan keramba danau dengan jutaan ikan mati.
Gerimis
seperti melilitkan kemurungan di awan yang menggantung hitam.
Matahari
mungkin masih lama tak tampak!
Analisis :
Dalam
kutipan cerpen di atas menceritakan
tentang Danau Liaq, yang bermakna danau ciptaan bulus karena kutukan dewa
pemarah. Danau liaq yang berasal dari pusaran seekor bulus yang harus bertelur
sejuta. Ia dikutuk karena memakan durian
kesayangan raja. Oleh karena kutukan itu, bulus itu membuat pusaran yang luas
di pasir untuk tempatnya bertelur. Pusaran itu menjadi lebar dan dalam dan
bekas pusaran itu berubah menjadi danau. Seorang anak di kampng itu sangat suka
memancing di danau liaq tersebut. Terakhir dia jera karena tiba-tiba saja di
dalam bubu melingkar ular bentung yang berbisa. Danau liaq tersebut rupanya
memiliki rahasia yang seram. Dapat kita lihat dari kutipan-kutipan di dalam
novel tersebut :
“Tapi di kiri kanan danau itu memiliki rahasia yang
seram,” kawanku Tuwala berkata dengan nada khawatir. ”harus berhati-hati
menghindari murkah.”
“Rahasia
apa? Murka siapa?” aku merasa penasaran.
“Rahasia
liaq itulah, itulah,” Tuwala berkata. “Dulu, bahkan orang harus mengorbankan
ayam putih dan anjing hitam kalau liaq itu murka.”
“Mengapa
murka?” aku bertanya seperti orang tolol.
“Karena
orang-orang mengambil ikan di danau itu tanpa adat aturan,” Tuwala makin
menjelaskan. “Mereka tak menggunakan peralatan nelayan yang lumrah. Mereka
gunakan potas dan setrum!”
“Potas
dan setrum? Bukankah sampai anak-anak ikan ikut mati?”
“Bukan
itu saja. Bahkan tukang putas dan tukang setrumnya ikut mati!”
“Itu
namanya kuwalat!” aku seperti menyumpahi.
“Tapi
sebenarnya tukang potas dan tukang setrum kuwalat pada liaq yang menghuni danau
itu. Karena mereka tidak memberi sesaji, liaqnya marah. Akibatnya sangat fatal,
tukang potas dan tukang setrum itu benar-benar mampus!”
2.3.3 Novel Kontemporer
MERAHNYA MERAH
Oleh: Iwan Simatupang
Satu
SEBELUM REVOLUSI.dia calon rahib. Selama revolusi, dia
komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepada
pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit
jiwa.
Kini,
revolusi telah selesai. Telah lama, kata sebagian orang. Ah! Barangkali juga
selesai-selesai. Dia tahu. Rumah sakit jiwa telah pula lama ditinggalkannya.
Dia
bukan rahib. Gereja tak pernah dimasukinya lagi. Terdaftar di departemen urusan
veteran, dan tak tega pula. Dia tahu, apa sebenarnya dia kini. Dia hanya tahu,
dimana dia. Yaitu, di sepanjang jalan raya. Menurut istilah resmi departemen
angkatan kepolisian dan departemen urusan sosial, dia orang gelandangan.
Matahari
menancap tinggi di langit. Udara gerah. Di jauhan terdengar kereta api masuk
stasiun. Kakinya sudah tak kuat membawanya lari ke sana. Ke pintu keluar stasiun
menghadang entah ada kenalannya di antara penumpang yang baru datang itu. Kalau
ada, pastilah kenalannya itu memberinya uang sekedar untuk makan seminggu,
kurang lebih.
Menurut
anggapannya sendiri,dia tak pernah minta. Apalagi minta-minta. Rasa harga
dirinya masih cukup tebal. Bila tak ada kenalannya antara penumpang-penumpang
itu-bekas anak buahnya, atau atasannya, ketika revolusi bersenjatadulu-dia
tahan tak makan berminggu-minggu lamanya. Bintang-bintang tanda pangkat
perwiranya yang masih tetap simpatinya sebagai jimat, terbungkus dan terlilit
meliputi lehernya-melarangnya mengikut kebiasaan rekan-rekannya gelandang
lainnya untuk menengadahkan kaleng atau batok kosong di warung-warung
mengharapkan sia-sia makanan tamu-tamu.
Dan
telah menemukan penangkal mujarab untuk memerangi pusing kepalanya bila perut
kosong berlarut-larut. Yaitu, berjalan sepanjang malam, menghitung-hitung
bintang di langit. Bila malam hujan, dia tampung air hujan dengan kedua telapak
tangannya, penuh-penuh. Kemudian, diminumnya. Perutnya serasa segar kembali.
Demikian pula seluruh tubuhnya. Diapun lalu dapat tidur pulas.
Siang
hari dia belum merasa pusing karena perut kosong. Keriuhan lalu lintas dan
gambaran manusia ramai sekelilingnya memenuhi perutnya dengan uap kebudayaan
kuta, uap peradaban manusia modern, yang membuatnya sanggup untuk menanggungkan
rasa lapar dan sakit berlarut-larut.
Tapi
kini, dia tak kuat jalan. Borok di pergelangan kakinya makin lebara saja. Makin
nyeri. Macam-macam sudah obat yang dianjurkan rekan-rekan gelandangan lainnya.
Dicobanya semua. Namun borok itu tambah luas saja. Tambah basah. Nanahnya
meleleh ke mana-mana. Jaringan-jaringan daging yang masih utuh sekitarnya,
mulai pula ikut-ikutan merah. Kemudian kuning, putih…menggenang nanah!
Dia
sendiri bukannya tak tahu asal usul borok itu, dan bagaimana cara pengobatannya
yang semestinya. Ketika dia masih di seminari dulu untuk dididik jadi rahib
katolik, dia juga diajari ilmu kesehatan sekedarnya. Dia tahu betul, tiap luka
yang bagaimanapun kecilnya pada tubuh seorang yang tak terurus dan terus
menerus kekurangannya vitamin, seperti dia itu, bisa jadi parah. Bahkan, tak
sembuh-sembuh.
Boroknya
itu dulu hanya gores kecil saja dari dahan belukar, ketika ia mengantarkan Fifi
ke perkampungan gubuk-gubuk kecil yang sembunyi di balik belukar-belukar di
tengah kota itu. Perkembangan gubuk-gubuk itu adalah perkampungan kaum
gelandangan. Sebenarnya janggal juga menyebutnya gubuk-gubuk. Untuk masuk ke
dalamnya, kita mesti merangkak. Di dalamnya kita hanya bisa duduk atau
terlentang. Ruangnya rata-rata 1 x ½ meter saja, cukup hanya untuk seorang
manusia duduk atau manusia terlentang. Sebelah luar, tiap gubuk dipagari oleh
sederet batu-batu atau potongan-potongan kayu kecil. Ruang antara pagar
itu-itulah tempat untuk semua kesibukan lainnya dari si penghuni, di luar
tidur. Di situ didapati ragam barang dan benda: cermin retak, botol-botol kecil
yang berisi pupur, gincu, minyak wangi yang dicampur air supaya menjadi lebih
banyak, dan lain-lain.
Gubuk-gubuk
kecil ini memberikan gambaran dari suatu film kartun kanak-kanak. Kontrasnya
dengan gambaran para penghuninya yang bukan kanak-kanak lagi itu, memberikan
pemandangan yanglebih khas lagi. Yakni, pemandangan dari semacam perkuburan di
dunia surealis, mayat-mayatnya berkualaran dan berkeliaran, semuanya menantang
langit terang. Kami ingin hidup 1000 tahun lagi….!
Fifi,
seorang gadis cilik. Gadis? Usianya 14 tahun. Tapi, dia sendiri serasa punya
usia lebih ½ abad. Dia dulu masa ini sudah entah berapa tahun pula
berselang-tinggal sentosa bertsama orang tuanya di kampungnya,di kaki sebuah
gunung. Pada satu subuh, gerombolan menyerbu kampong itu. Leher ayahnya mereka
gorok. Ibunya, kakak-kakaknya dan dia sendiri, nereka perkosa beramai-ramai.
Esoknya, kampong itu pupus dari permukaan bumi. Dia bersama
tetangga-tetangganya mengungsi ke kota.
Karena dia tak punya apa-apa pun famili tidak-dia terpaksa cari nafkahnya
dengan satu-satunya barang yang masih punya harga bagi orang lain. Yakni,
kewanitaannya. Inipun tak lama dapat ia eksploatasi. Satu malam, ia kena razia
di kota. Lewat seminggu, ia dilepas lagi.
Ayo!
Mengapa lagi di sini. Lekas-lekas pulang ke kekampungmu ke orangtuamu! Bentuk
brigadier polisi susila, yang malam sebelumnya sudah sempat mencicipi dia.
Saya
tak punya kampung, tak punya orang tua.
Brigadir
itu pura-pura membelalakkan mata, kemudian pura-pura menggelengkan kepalanya,
kemudian pergi dengan rasa masa bodoh dan mual yang sebesar-besarnya.
Lepas
tengah hari, dia meninggalkan kantor polisi itu sesudah diberi makan ompreng
terlebih dahulu.
Saya
ke mana? Tanyanya
Kemana
saja. Tapi ingat, jangan berbuat seperti itu lagi. Mengerti?
Dia
menganguk, tak mengerti. Oleh sebab dia tak kenal kota itu, sudah dirinya
diantar tukang becak yang kebetulan lewat ke alun-alun, tempatnya semula.
Ongkosnya disuruh tagihnya nanti malam saja.
Setelah
seminggu dia di alun-alun itu, dia diajak tukang becak itu ikut mencoba nasib
ke ibukota. Di sana lebih banyak kerja, katanya. Juga bagi wanita-wanita
seperti Fifi. Dia menganguk lagi, karena kembali dia tak mengerti betul. Tapi,
dia ikut, persis seminggu di sana, dia ditinggal becak, yang dalam pada itu
setelah berhasil jadi gacoan tetap seorang cabo montok, yang punya gubuk
sendiri pula lagi.
Selagi
dia dinas sendirian di perempatan jalan dekat lapangan besar itu, dia ditemui
laki-laki tokoh utama cerita kita ini. Tokoh kita tertegun, lalu duduk,
menunggu Fifi berhenti menangis.
Selesai?
-Selesai
apa?
-Menangis.
Fifi
tercengang. Marahnya pun pura-pura tak jadi.
-Oh!
Saya tak menangis.
-Baiknya
jangan kita persoalkan itu lagi.
Kata-kata
tokoh kita tegas seperti perwir di medan perang yang harus segera ambil
putusan.
-Adik
masih baru di sini saya lihat, dan tak punya tempat memangkal.
-Tempat
apa?
-Pangkalan.
Maksudnya, tempat tinggal menetap.
-Apa
kakak punya?
-Yang
sedang kita soalkan sekarang ini adalah adik, bukan? Mari saya tolongkan.
Itupun, kalau adik sendiri mau.
Fifi dibawanya
keperkampungan gubuk-gubuk kecil di balik belukar dan alang-alang di tengah
lapangan itu. Diperkenalkannya Fifi kepada penghuni-penghuni lainnya di situ.
Juga kepada Maria.
-Hm,
Gacoan baru? Sengat Meria.
Dia
ini seorang wanita bertubuh besar, montok, hitam. Rambutnya kriting
kecil-kecil, seperti kriting Negro. Gigi masnya 4,2 di rahang atas, 2 di rahang
bawah.
-Maria!
Teriak tokoh kita. Dia ini baru saja kutemukan. Dia orang asing sama sekali di
sini. Tak punya apa-apa, tak punya siapa-siapa. Tolonglah dia.
-Tolong
dalam hal apa? Bentak Maria, terus maju ke Fifi, ingin menariksirnya! Lebih
bdekat.
-Menompangkan
dia tidur di gubukmu ini. Gubukmu terbesar di sini, bisa masuk 2 orang.
-Menompang?
Kau sendiri mengalami saban kali kau tidur bersama aku-cih! Kau sendiri tahu,
gubukku tak besar.
Mendengarkan
ini, Fifi dapat menahan tawanya. Tanpa disadarinya, tangan kokoh kita
tercubitnya dalam tawanya ini. Melihat cubitan ini, Maria jadi galak, serasa ia
ingin menjambak rambut tokoh kita. Dibantingnya kakinya ke tanah, kemudian dia
meludah dan lari masuk merangkak ke dalam gubuknya.
-Tunggu
sebentar di sini, dik! Bisik tokoh kita pada Fifi. Mulut Maria memang rewel.
Tapi hatinya baik. Aku percaya, adik bakal bisa menumpang tidur dengan dia.
Setidaknya mala mini.
Segera
dia masuk ke dalam gubuk Maria.
-Pergi!
Pergi! Aku tak ingin lihat mukamu.
-Maria!
Maria! Bujuk tokoh kita, sambil merangkak masuk.
-Cih!
Laki-laki mata keranjang. Ketemu gacoan baru, hah! Fifi yang makin tertarik
pada percakapan riuh dalam gubuk itu, melangkah dekat.
-Mereka
selaku begitu! Suara seorang wanita di sampingnya.
Fifi
terperanjat juga sedikit. Tapi segera dia dapat menyusuri wajah wanita di
remang tengah malam itu: wanita itu kurang lebih usia dia juga, dengan nasib
yang kurang lebih sama. Hatinya legah. Wanita itu tertawa ramah. Dia adalah
penghuniperkampungan itu juga. Dia mengunyah-ngunyah kwaci. Sebagian kwaci
diberinya Fifi.
-Saya
icih. Sebantar lagi, mereka akan baikan kembali, dan akan tidur dengan Maria
nanti.
-Dia
galak! Tingkah Fifi.
-Memang.
Tapi hanya lumayan saja. Dialah ibu kami di sini, laki-laki maupun perempuan.
Kalau ada apa-apa atau ada kesusahan kami, kamib selalu datang padanya. Dia
selalu sedia menolong. Kata-katanya selalu dapat mengobati susah kami.
-Dia
dari man?
-Entah.
Menurut omongan orang,dia berasal dari bagian timur negeri kita. Entah Maluku,
entah Timor, entah Flores.
-Namanya
memang Maria?
-Ya.
Agamanya katolik, setidaknya dulu. Dulu dia mau jadi guru rawat. Tapi, oleh
karena dia tak bisa melihat darah, cita-citanya gagal. Kemudian dia menjadi
seorang pembantu rumah tangga pada pastoran di kota kecil tak jauh dari
kampungnya. Pada suatu petang, dia diterkam oleh seorang laki-laki dari
belakangnya, diseret ke dalam semak-semak, lalu diperkosa-tanpa dapat melihat
siapa laki-laki itu. Seminggu sesudah
ituSeminggu sesudah ituSeminggu sesudah itu, seorang pastor di pastoran itu
menggantung dirinya. Sebab-sebabnya tak diketahui. Maria begitu takutnya melihat
pastor yang tergantung pada tali itu, hingga dia lari dari pastoran itu. Lalu
dia ikut salah satu perahu yang biasa mengangkut rempah-rempah ke Jawa ini. Bayi
yang lahir dari perkosaan itu- ini juga keajaiban, sebab umumnya tak lantas
lahir anak dari perkosaan- ditinggalkannya di rumah sakit tempat ia bersalin,
dan dia memulai pertualangannya, sampai dia terdampar kemari…
Fifi
diam, tanpa disadarinya bintik-bintik air panas mengalir dari sudut-sudut
matanya. Dari dalam gunung Maria, tiba-tiba kedengaran suara Maria menangis
tersedu-sedu, sedang tokoh kita setengah berbisik mencoba membujuknya.
Tak
lama kemudian, Fifi dan kawan-kawannya itu dikejutkan tawa kuat-kuat Maria,
ditingkaj tawa tokoh kita yang tak kalah pula kuatnya. Tawa Maria makin genit.
Pada satu saat, tawa genit Maria berhenti sama sekali. Dari dalam gubuk itu tak
kedengaran suara apa-apa lagi. Hening, penuh rahasia.
-Mengapa
mereka sekarang? Tany Fifi, heran. Icih mencubit tangannya, ketawa genit.
-Ngapai
lagi…Hi-hi-hi! Apa kataku tadi, kau tidur bersama Maria malam ini.
Fifi mengerti.
-Tapi,
sesudah mereka baikan begitu, apa bukan kakak itu sendiri nanti yang bakal
pilih Maria sebagai kawan tidurnya?
-Kalau
kakak kita itu memang punya rencana untuk tidur bersama Maria malam ini.
Masakan kita akan membawamu padanya? Hi-hi-hi….
-Benar
pula, piker Fifi.
-Dan
lagi kakak kita tak pernah suka bermalam di sini. Artinya menginap sampai pagi.
Dia selalu buru-buru pergi lagi, tidur di tempat mangkalnya sendiri, entah
dimana.
-Tak
seorang kami di sini tahu. Dialah satu-satunya dari seluruh kaum gelandangan di
kota ini tak diketahui tempat mangkalnya. Tapi, tiba-tiba saja dia sudah tak
kelihatan lagi.
-Heh,
apa? Tanya Fifi sedikit ketakutan.
-Betul.saya
sendiri tak percaya dia itu hantu yang tiba-tiba saja bisa menghilang. Dugaan
kami adalah, dia itu akhirnya thu dia sedang dibuntuti, lalu lari tiba-tiba dan
menghilang.
Mereka
berhenti bercakap. Dari gubuk, keluar tokoh kita, disusul Maria yang tampak
sedikit malu-malu sambil membetulkan rambut dan roknya yang kusut.
Pada
tubuh tokoh kita melekat bau minyak wangi yang sengit sekali. Minyak wangi
Maria!
-Hm,
wanginya, sindir Icih dan mencubit tangn Fifi.
Maria
tambah malu-malu lagi, tunduk.
-Adik
malam ini tidur bersama Maria. Bahkan sampai dengan ada kepastian lebih lanjut
nanti mengenai tempat adik, adik selam itu boleh numpang pada Maria. Bukankah,
begitu Maria?
Maria
mengangguk.
-Beres,
kalu begitu. Sekarang saya permisi pergi.
-Kakak
sendiri tidur di mana? Tanya Fifi.
Di
dasar hatinya yang sebenarnya baru berusia 14 tahun itu, dia merasa mulai
mekarnya suatu perasaan yang sampai dengan saat ini sangat asing baginya. Rasa
mesra, rasa kasih sayang, yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Dia
menatap baik-baik seluruh perawakan laki-laki itu. Kelihatan mata yang sempat dapat
ditangkapnya dari remang malam yang telah jauh berangkat tua itu, membuat
kecambah dalam hatinya makin mengelopak. Ketika laki-laki itu menyentuh
tangannya, maksudnya membawanya kepada Maria, agar Maria menuntunnya masuk ke dalam
gubuknya, jantung Fifi berdebar keras sekali.
-Tidurlah
baik-baik. Kau jaga dia baik-baik, Maria.
Maria
tak menyahut. Erat-erat dipegangnya tangan tokoh kita, seolah tak ingin
dilepaskannya untuk selamanya.
-Jagalah
dirimu juga baik-baik,hm? Kata Maria penuh sayang. Obat gosok yang kuberi tadi
jangan lupa gosokan ke dadamu sebelum tidur. Mengerti? Dan besok, jangan lupa
pergi ke dokter. Uang yang kuberi tadi adalah untuk dokter. Mengerti?
Tokoh
kita mengangguk. Setelah menjentik ringan pipiu Icih, dia pun pergi.
Pelan-pelan disurukinya belukar keluar.
Langit
tak bening lagi. Kelompok-kelompok embun dari arah pantai, buru memburu menuju
selatan. Malam menggelepar jalan lengang. Seekor anjing menyalaki tukang becak
yang mengayuh becakny acuh tak acuh, pulang.
Di
dalam gubuk, lama sekali Maria tak bisa tidur. Fifi segera terlena. Tidurnya
mendengkur. Tubuhnya letih. Otaknya baru saja dihimpit berat sekali oleh
sekumpulan pengalaman dan kesan baru yang asing baginya. Dia, wanita yang sudah
tua, sangat letih, pada usia 14 tahun.
Menjelang
dinihari, Fifi terkejut bangun. Dia mendengar Maria menangis tertahan-tahan.
Lama sekali dia berbisik-bisik seorang dirinya. Bisik-bisik dari suatu doa yang
asing bagi teling Fifi. Kemudian dia berkata agak keras.
-Semoga
tuhan selalu bersama dia!
Maria
tertidur kembali. Tarikan-tarikan nafasnya kini tenang.
Lama
Fifi menatap ke dalam kelam gubuk kecil itu. Dia ingin sekali tahu, siapa
maksud Maria dengan dia tadi itu. Naluri kewanitaannya pelan-pelan mengambang, membuat
dia gelisah. Dalam kelam gubuk kecil itu, dia lihat dirinya dihalau ke dalam
satu sudut lancip dari suatu segitiga hitam. Adakah?
Ah
dia tak ingin percaya. Dan taruhlah dia dapat percaya dia bisa berbuat apa? Dia
tahu, toh dia bakal kalah, menyerah, pergi. Biarlah dia kembali melompat ke
daerah kedaulatannya yang mutlak, yang tak dapat diganggu gugat siapapun juga
hingga kini. Yaitu, daerah khayalnya dari tiada pembatasan dan syarat apa-apa.
Dia
ingin lebih lama sedikit mencumbuh dirinya dengan keadaan baru, yang tadi untuk
pertama kali dirasanya. Kemudian, lambat-lambat dia mengangkat dirinya
ditengah-tengah seluruh persoalan bbarunya tadi ke tengah bumi yang baru, di
tengah man dia kini ada. Yaitu, perkampungan gubuk-gubuk kecil dari manusia-manusia
kere, makhluk-makhluk boyongan yang terus-menerus dikejar oleh perselisihan
waktu melawan ruang dengan derita sebagai taruhannya. Keadaan yang serba
derita, dari ukuran yang serba kecil, serba sedikit. Tapi juga, keadaan yang
menggenggam satu jenis rasa yang memanaskan, yang membebaskan.
Terlebih
lagi, dia ingin memelihara terus kecambah dari perasaan yang baru untuk pertama
kali inilah pernah datang menyergap dirinya. Menyergap tubuhnya yang baru
berusia 14 tahun itu, yang sudah jadi pusing oleh sekian laki-laki demi berahi
dan sejumput rupiah. Masikah lagi ada kesempatan dan kemungkinan baru bagi dia?
Dia
tak tahu. Mutiara-mutiara bening mencair di sudut-sudut matanya. Dia
tengadahkan mukanya ke atas. Ke mana lagi kalau tak ke atas? Atas adalah arah segala
derita. Tapi juga, arah dari segala harap dan doa.
-Semoga
Tuhan bersama dia! Isaknya. Dia akget. Belum pernah dia mengucapkan kata-kata
itu. Tuhan?
Tapi,
jaringan-jaringan otaknya yang sebenarnya masih muda belia itu tak lagi mampu
membendung kantuknya yang kini datang semakin gigih merebut seluruh tubuhnya.
Ayam
berkoko dijauhan. Sebentar lagi, fajar menyembul. Fifi telah tidur.
Nafas-nafasnya pelan, teratur. Perkampungan gubuk-gubuk kecil itu nyenyak.
Keunggulan Novel
- Terinspirasi dari kisah
nyata
- Pewatakan tokoh mudah dimengerti dan di gambarkan
jelas. Sebelum revolusi dia calon rahib.
Selama revolusi dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung
kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap, dan sesudah revolusi dia masuk rumah
sakit jiwa.
- Ceritanya setelah dia
keluar dari rumah sakit jiwa itu, dia menjadi seorang gelandangan yang tak
punya apa-apa, dan kini dia tak sanggup jalan karena borok di pergelangan
kakinya semakin melebar. Goroknya itu berasal dari goresan kecil dari bahan
belukar.
- Setting cerita bertempat
di perkampungan yang bernama Alun-alun, dan perkotaan.
- Kisah asmara yang disajikan penulis tergambar cinta segi tiga (Tokoh
kita, Fifi, dan Maria)
- Tokoh Fifi adalah seorang
gadis yang berusia 14 tahun. Dia adalah salah satu korban pemerkosaan. Setelah
dia ditinggalkan oleh keluarganya (meninggal) dia tak punya apap-apa, dan dia
rela menjual keperawanannya untuk keberlangsungan hidupnya. Sehingga dia pun
pernah kena razia.
- Dalam kutipan novel tersebut terdapat kata-kata yang
kurang sopan, kasar.
“ Ayo! Mengapa lagi di sini. Lekas-lekas pulang
kekampungmu ke orangtuamu! Polisi Bentak brigadir polisi susila, yang malam
sebelumnya sudah sempat mencicipinya.
Manfaat Novel
-Novel ini mengingatkan/menegaskan
kepada pembaca, apapun yang terjadi janganlah sampai menjual harga diri,
seperti yang dilakukan oleh Fifi di dalam cerita novel tersebut.
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sastrawan
kontemporer adalah ahli sastra pada masa kini, dewasa ini, semasa dan sewaktu. Sastrawan kontemporer ini sudah
banyak menciptakan karya-karya sastranya. Baik itu berupa novel, puisi, maupun
cerpen. Karya-karya sastranya itu ceritanya tentu saja bervariasi.
Dalam karya sastranya itu
berbagai bentuk model atau jenis yang diterbitkannya, contoh pada puisi. Puisi
yang ia terbitkan itu ada yang berupa hanya menggunakan simbol-simbol dengan
menampilkan kata atau kalimat seruan yang sedikit, tapi ia tetap memiliki
makna, seperti pada puisi yang berjudul Viva Pancasila karya Purba pada tahun
2001. Dalam puisi Viva Pancasila in sangat sulit diartikan dan dipahami karena
puisi hanyan terdiri dari simbol-simbol. Sastrawan kontemporer melakukan
perubahan dalam karya sastra khususnya puisi terlihat dalam puisi ini pembaca
sangat sulit dimengerti.
Begitu pula
puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul dandandid. Dandandid merupakan
puisi yang berbentuk mantera. Didalam puisi ini bertolak dari pengalaman
kanak-kanaknya dengan lagu malam anak serta dongeng ke dalam puisi-puisinya.
Puisi ini berusaha melakukan pembaharuan dengan kata-kata yang digunakan dalam
puisi ini terlihat bahwa penyair ingin
mengabungkan nilai mantera dengan puisi yang menceritakan lagu
anak-anak.
Namun, sastrawan kontemporer
tentunya dalam menulis karya sastra banyak bentuk dan modelnya yang mereka
terbitkan. Ada yang bisa kita pahami langsung, bahkan ada juga yang sulit dipahami
bagi setengah orang, seperti pada puisi Viva Pancasila. Tetapi tentunya para
sastrawan menerbitkan karyanya tersebut ada maksudnya. Ada yang menggambarkan
kesedihan yang mereka alami, dan ada juga yang berisikan kegembiraan yang
mereka rasakan.
3.2 Saran
Berdasarkan
materi yang penulis
sampaikan di atas, penulis menyarankan kepada pembaca agar pembaca yang akan
melakukan penelitian tentang sastrawan kontemporer ini memiliki referensi yang
banyak dan memahaminya terlebih dahulu. Semoga makalah kami ini dapat menambah wawasan
dan pengetahuan si
pembaca, dan semoga dapat menjadi inspirasi untuk pembaca yang
akan melakukan penelitian tentang sastrawan kontemporer. Kita harus lebih banyak membaca dan
memahami kalimat dalam
karya-karya sastra tersebut. Karena memahami kalimat
sangatlah penting untuk kita sebagai calon pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Purba, Antilan.
2010. “Sastra Indonesia Kontemporer”.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Shomary,
Sudirman. 2010.”Sejarah Sastra Indonesia”. Pekanbaru.
Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional.2008.Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama